Budaya kekerasan dalam dunia sepakbola sering diidentikkan dengan kerusuhan antar suporter maupun perkelahian antar pemain dan ofisial tim. Pandangan tersebut tidaklah salah hanya saja tidak selamanya sepakbola itu selalu penuh dengan kekerasan meskipun sepakbola itu sendiri adalah olahraga yang keras.
Kekerasan dalam sepakbola tersebut merupakan evolusi dari budaya Ultras dan hooliganisme yang saat ini telah berkembang ke seluruh penjuru dunia. Hooliganisme tidak hanya mendorong kekerasan di dalam stadion tetapi juga menyebarkan benih-benih kekerasan di luar stadion. SEPAK BOLA Italia menyimpan cerita kelam. Di sana sering kali muncul kericuhan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Berikut kekerasan yang pernah terjadi.
Oktober 1979
Seorang fans Lazio bernama Vincenzo Paparelli meninggal sesudah dilempari bom api dalam derby melawan AS Roma.
Maret 1982
Tifosi AS Roma, Andrea Vitone tewas karena Romanisti lainnya membakar kereta yang membawa supporter mereka. Romanisiti melakukannya karena kesal timnya kalah dengan Bologna.
Oktober 1988
Pecah kerusuhan antara suporter Inter Milan dengan Ascoli. Nazzareno Filippini, seorang suporter Ascoli tewas delapan hari sesudah bentrokan karena luka-luka yang dideritanya sewaktu diserang pendukung Inter.
Januari 1995
Sebelum pertandingan melawan AC Milan, seorang fans Genoa, Vincenzo Spagnolo tewas tertusuk pisau.
Juni 2001
Partai Catania vs Messina membawa korban. Seorang penonton bernama Antonio Curro mati akibat terkena ledakan bom rakitan.
September 2003
Napoli terpaksa memainkan lima pertandingan tanpa penonton akibat perkelahian yang muncul di lapangan dalam pertandingan melawan Avellino. Dalam insiden itu 30 polisi cedera dan seorang fans bernama Sergio Ercolano tewas terjatuh dari tribun.
Maret 2004
Derby della Capitale lagi-lagi memicu kerusuhan. Suporter Roma turun ke lapangan untuk menemui kapten Francesco Totti agar menghentikan pertandingan. Hal itu dilakukan karena ada rumor polisi membunuh seorang suporter.
September 2004
Pertandingan antara Roma dan Dynamo Kyiv di Liga Champions ditunda karena wasit Anders Frisk terluka akibat terkena korek api yang dilemparkan suporter dari tribun.
April 2005
Kiper Milan, Nelson Dida cedera setelah dilempati kembang api oleh suporter Inter di dalam pertandingan perempat final Liga Champions 2004-05. Pertandingan itu akhirnya dihentikan.
Februari 2007
Seorang polisi bernama Filippo Raciti terbunuh dalam kericuhan antarsuporter Palermo dan Catania
November 2007
Gabriele Sandri, seorang fans Lazio meninggal karena terkena peluru nyasar yang ditembakkan polisi untuk meredakan kerusuhan antara suporter Lazio dengan Juventus.
neh yg udah pada mampir
Jumat, 27 Januari 2012
GAMELLAGIO JIWA CURVA NORD
Sebuah Catatan Panjang Sejarah dan Kejadian Dramatis
Stadio Giuseppe Meazza, San Siro, Milano, 23 April 2011. Menjelang laga Inter vs Lazio di pekan-pekan terakhir yang krusial di Serie A musim 2011/2012. Lazio sedang bersaing keras dengan Udinese untuk mengamankan tempat di UCL dan Inter sedang berjuang keras menghidupkan asa scudetto yang hampir pasti diraih AC Milan. Ketika kedua tim memasuki lapangan, dari salah satu bagian stadion puluhan flare warna biru langit dinyalakan, disusul pekikan ribuan orang: “A Roma Ce Solo Lazio” atau “Di Kota Roma Hanya Ada Lazio”. Kita yang hanya menyaksikan lewat televisi tentu mengira itu adalah ulah suporter Lazio. Sebenarnya bukan, flare dan teriakan itu justru dilakukan dari Curva Nord Stadio GM oleh puluhan ribu Interisti yang tergabung dalam Boys SAN dan beberapa kelompok ultras Inter lainnya. Baru setelah itu dari sisi Irriducibili Lazio dinyalakan flare warna biru gelap (warna Inter) dan para Laziali meneriakkan “Forza Inter Ale”. Itu adalah ritual selamat datang dari Interisti untuk Laziali dan tanda persahabatan Laziali bagi Interisti. Ritual itu sudah berusia lebih dari satu dekade sejak kedua kelompok suporter ultras menjalin gamellaggio (twinning, persaudaraan). Di Stadio Olimpico, ritual dilakukan sebaliknya. Irriducibili Lazio menyalakan flare biru gelap disertai teriakan “Forza Inter Ale” dan dibalas oleh Interisti dengan flare biru langit dan teriakan “A Roma Ce Solo Lazio.”
Mengapa kita bersahabat dengan Lazio? Karena sama-sama menempati Curva Nord? Dan mengapa Lazio berseteru dengan AS Roma? Karena menghuni kota yang sama? Itu memang salah satu alasan tetapi latar belakang sesungguhnya adalah sebuah sejarah panjang dan kompleks, dimulai bahkan dari saat awal eksistensi kedua klub itu.
Takdir Mulai Saat Kelahiran
SS Lazio dibentuk tahun 1900 oleh para politisi dan usahawan berhaluan politik kanan dan anti-Yahudi serta berbasis pendukung kaum terpelajar dan kalangan menengah-atas Roma. Kelompok berhaluan serupa juga lah yang mendirikan Inter saat melepaskan diri dari AC Milan tahun 1908.
Saat diktator fasis Benito Mussolini berkuasa di Italia, dia memerintahkan semua klub di kota Roma di-merger menjadi AS Roma tahun 1927. Semua mematuhi, kecuali SS Lazio yang menentang dan tetap berdiri sendiri. AS Roma dikuasai oleh golongan kiri dan didukung oleh kelas buruh dan masyarakat Yahudi (kelompok serupa yang mendukung AC Milan). Di kota Milan, Mussolini melakukan hal yang sama, dan Inter melakukan penentangan yang sama sehingga sementara harus berganti nama menjadi Ambrosiana Milano. Sejarah awal ini telah menyemai ikatan antara SS Lazio dan Inter serta menempatkan AS Roma dan AC Milan pada pihak yang berseberangan. Lokasi yang sama di Curva Nord (Lazio dan Inter) dan di Curva Sud (AS Roma dan AC Milan) makin mempertajam perbedaan ini. Dan, tentu saja, faktor lokasi di Kota yang sama menjadikan persaingan Lazio-Roma menjadi semakin memanas. Lazio dan pendukungnya merasa sebagai yang pertama di Roma, sedangkan AS Roma menganggap dirinya satu-satunya klub yang menyandang nama kota.
Persaingan ini sedemikian panasnya, sehingga Derby della Capitale (SS Lazio vs AS Roma) dinobatkan sebagai derbi paling panas di Italia bahkan di Eropa, melebihi Derby della Madoninna (Inter vs Milan), Derby Manchester (MU vs Manchester City) bahkan mengungguli El Classico (Barcelona vs Madrid). Kalau Interisti dan Milanisti hanya panas di dunia maya tetapi bersahabat di dunia nyata, Laziali dan Romanisti berseteru dalam arti sebenarnya, di dunia maya maupun di dunia nyata. Hampir tak pernah terjadi Derby della Capitale tanpa kerusuhan. Tercatat beberapa nyawa melayang dan ratusan orang telah terluka karena derbi ini. Derby della Capitale adalah “neraka” sepakbola Italia.
Gamellaggio Lazio-Inter
Persaudaraan ini terjadi sepanjang sejarah. Tak pernah ada catatan insiden antara Laziali dan Interisti. Kesamaan aliran politik dan basis pendukung membuat kedua kelompok suporter ini selalu rukun. Gamellaggio secara formal terjadi saat kedua suporter bertemu dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Sikap ksatria Irriducibili Lazio dan sikap simpatik Boys SAN Inter membuat kedua suporter mendapatkan penghargaan fair play dari UEFA. Dan saat itu tercapailah kesepakatan persaudaraan antara Laziali dan Interisti yang makin menguat hingga hari ini.
Inilah beberapa kejadian unik yang menunjukkan eratnya gamellagio Lazio-Inter:
Nasib Tragis Zaccheroni, 5 Mei 2002
Pada pertandingan giornata 34 musim 2001/2002 tanggal (match terakhir, karena saat itu Serie A hanya berisi 18 tim), terjadi peristiwa yang unik di Stadio Olimpico pada laga Lazio vs Inter. Saat itu Inter di ambang juara karena cukup dengan mengalahkan Lazio maka mereka akan meraih scudetto mengungguli Juventus. Maka Laziali di Stadio Olimpico, dimotori Irriducubili Lazio mendukung Inter habis-habisan dan meminta Lazio kalah, agar yang mendapatkan scudetto Inter, rival Lazio: Juventus. Sayangnya malam itu para punggawa Nerazzurri gagal meraih scudetto yang sudah di depan mata, kalah 2-4 dari Biancoceleste. Dan Juventus merebut scudetto dengan 71 poin, diikuti Roma dengan 70 poin. Inter sendiri di posisi ketiga dengan 69 poin. Akibat kejadian ini, Irriducibili Lazio mendemo manajemen Lazio dan meminta allenatore Lazio, Alberto Zaccheroni dipecat. Zaccheroni pun akhirnya mengundurkan diri. Dia dimusuhi Laziali justru karena timnya memenangkan laga. Ironis, tapi itulah jiwa Irriducibili Lazio: persahabatan dan solidaritas ditempatkan di atas sepak bola itu sendiri.
Stadio Giuseppe Meazza Tanpa Banner dan Flare, 15 November 2007
Empat hari sebelumnya, seorang DJ terkenal di kota Roma, Gabriele Sandri, seorang pendukung ultras Lazio, menjadi korban tak berdosa dalam kerusuhan antara sekelompok suporter anarkis Juventus dan kepolisian kota Roma. Sandri tertembak di bagian belakang kepalanya oleh polisi. Kerusuhan pun meledak, menuntut keadilan. Tidak hanya karena para Laziali menyerang kantor polisi Roma, tapi juga di Milano, oleh Interisti menyerang kantor polisi Milano, menunjukkan solidaritasnya. Untuk menghormati Sandri, Inter menunda sehari pertandingan Inter vs Lazio di Stadio Giuseppe Meazza yang seharusnya digelar 14 November. Saat pertandingan berlangsung, Boys SAN Inter memprakarsai mengheningkan cipta selama 5 menit di stadion untuk menghormati Sandri. Dan malam itu, di Curva Nord Giuseppe Meazza, tempat para Interisti, sama sekali tidak terlihat sepotong pun spanduk, banner ataupun sebuah flare pun yang mereka nyalakan. Kelompok-kelompok ultras Inter hanya membentangkan sebuah spanduk besar dengan tulisan warna biru langit berlatar belakang biru gelap bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami”.
Korban Berikutnya, Jersey No 12 SS Lazio, Minggu, 2 Mei 2010
Stadio Olimpico Roma dipenuhi pendukung Lazio dan Inter yang menantikan pertandingan Serie A giornata 36 musim 2009/2010. Pertandingan ini sangat menentukan bagi kedua tim. Bagi inter, memenangi pertandingan ini akan mempermudah meraih Scudetto, dan akan mengambil alih poisisi cappolista dari AS Roma yang sementara unggul 1 poin. Bagi Lazio memenangi pertandingan ini akan lebih mengamankan diri dari kemungkinan degradasi ke Serie B, karena saat itu Lazio berada di posisi 17 dan hanya terpaut 4 poin dari zona merah.
Ritual gamellagio seperti pada pembuka tulisan ini pun dilakukan. Itu hal biasa. Yang luar biasa adalah banyak bendera Inter dan spanduk-spanduk pemberi semangat bagi Inter dikibarkan oleh Irriducibili Lazio. Yang paling mencengangkan tentu saja sebuah spanduk para Laziali yang ditujukkan kepada para pemain Lazio sendiri: “Kalau sampai menit ke 80 Lazio unggul, kami akan masuk ke lapangan!” Spanduk ini disita polisi tak lama kemudian tetapi muncul spanduk-spanduk lain yang tak kalah mengerikan: “Nando (maksudnya Fernando Muslera), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu.” “Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires.” Rupa-rupanya para pendukung Lazio ingin agar Inter mengalahkan timnya malam itu, untuk melicinkan jalan Inter menuju scudetto. Mereka lebih memilih risiko Lazio turun ke Serie B daripada Roma yang memperoleh scudetto.
Suasana pertandingan pun menjadi sangat aneh. Lazio sama sekali tidak memperoleh dukungan fans-nya sendiri walaupun bermain di Olimpico. Sebaliknya Inter sebagai tamu justru memperoleh dukungan luar biasa. Setiap kali pemain Inter menguasai bola, para Laziali berteriak, “Biarkan mereka lewat!” Malam itu portiere Lazio, Fernando Muslera, bermain sangat gemilang. Tak kurang dari 10 penyelamatan luar biasa dilakukannya. Tiap kali Muslera menggagalkan gol Inter, teriakan cemoohan pun berkumandang ke arahnya. Akhirnya pada injury time babak pertama, tandukan Walter Samuel mengubah skor menjadi 0-1. Stadion bergelegar dan muncul spanduk ejekan dari Laziali bertuliskan, “Oh, Noooo Roma!” dan, “Scudetto Game Over, Roma!”
Di babak kedua mental pemain Lazio (kecuali Muslera yang tetap bermain gemilang) pun runtuh. Kesalahan demi kesalahan dilakukan dan membuat Thiago Motta menggenapkan kemenangan Inter menjadi 0-2 di menit ke 70. Di akhir pertandingan, para pemain Lazio meninggalkan pertandingan dengan sedih dan marah karena merasa “dihianati” Laziali. Presiden Roma, Rosella Sensi mengecam habis-habisan ulah Laziali tersebut. Jose Mourinho hanya berkomentar pendek, “Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini.” Asisten pelatih Lazio mengakui bahwa anak asuhnya sangat terpengaruh oleh suasana stadion dan tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.
Inter akhirnya merebut scudetto 2009/2010 dengan keunggulan 2 poin atas AS Roma. Syukurlah, Lazio mampu memenangi 2 laga sisa, terhindar degradasi dan menempati posisi akhir klasemen di urutan ke 12. Insiden ini membuat presiden Lazio, Claudio Lotito marah besar. Tahun 2003 Lazio memutuskan untuk mengistirahatkan jersey no. 12 sebagai penghormatan pada Irriducibili Lazio sebagai “pemain ke 12″. Tetapi karena kejadian ini (ditambah lagi dengan kehadiran politisi lawan Lotito di tribun Irriducibili Lazio beberapa pertandingan sebelumnya) maka jersey no. 12 ditarik kembali dari peristirahatannya dan pada musim 2010/2011 dipakai oleh portiere kedua Lazio, Tomasso Berni. Musim 2011/2012 jersey no 12 dipakai oleh difensore Marius Stankevicius. Satu bukti lagi, bahwa bagi Irriducibili Lazio, persahabatan dan solidaritas adalah yang terpenting.
Kawan dan Rival Bersama, Bagaimana di Indonesia?
Sejarah telah berbicara, dan akhirnya menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama Lazio dan Inter. Di Indonesia, gamellagio Lazio-Inter ini masih sangat kurang terasa. Tak jarang Laziali dan Interisti justru terlibat perdebatan panas di berbagai grup dan fanpage. Padahal di Italia, persaudaraan ini demikian erat di dunia maya dan di dunia nyata. Yang telah ada adalah menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama. Satu keanehan lagi di Indonesia, Milanisti dan Juventini cenderung bersahabat, sementara di Italia, mereka berdua adalah rival.
(Dari berbagai sumber: forum LaCurvaNord, LazioForever, ForzaInterForums, UltrasLazio dan IrriducibiliLazio).
Jumat, 20 Januari 2012
TREBLE WINNER
Treble winner adalah istilah dalam sepakbola untuk menyebut sebuah kesebelasan/klub sepakbola yang berhasil meraih 3 gelar dalam 1 musim kompetisi. Secara umum, liga sepakbola negara-negara Eropa menggelar 2 kompetisi domestik yaitu liga utama dan dan piala utama. Sementara di tingkat kontinental, UEFA punya 2 kompetisi utama, yaitu Liga Champions dan Liga Eropa. Maka kemungkinan 3 gelar yang dimaksud adalah 2 gelar di kompetisi domestik dan 1 gelar di kompetisi Eropa (satu klub cuma bisa ikut serta di 1 kompetisi Eropa dalam 1 musim). Selama sejarahnya, baru 5 klub yang pernah mencatatkan diri sebagai pengoleksi 3 gelar dalam 1 musim, yaitu Glasgow Celtic, Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, Manchester United, dan Barcelona.
Musim kompetisi ini, Inter mencatat sejarah sebagai yang pertama untuk klub sepakbola Italia. Setelah pada tahun 1965 Inter tercatat sebagai tim Italia pertama yang berhasil mempertahankan gelar juara Piala Champions. Malam ini, Inter sekali lagi menjadi tim Italia pertama yang berhasil menjadi treble winner, dengan menjuarai Liga Italia 2009/2010, Piala Italia 2009/2010, dan Liga Champions 2009/2010. Dengan kata lain, musim ini Inter selain raja Italia juga raja Eropa.
Penampilan Inter musim ini tangguh banget di segala lini. Dari kiper, bek, midfilder, dan penyerang semua berperan penting bagi tim untuk keberhasilan ini. Banyak yang bilang — terutama setelah partai semifinal kedua melawan Barcelona — Inter adalah tim yang defensif. Menurut saya, Inter bukan tim yang defensif. Inter di bawah asuhan Jose Mourinho hampir selalu memainkan pola menyerang dengan komposisi 3 penyerang, Diego Militto, Samuel Eto’o dan Goran Pandev atau Mario Balotelli. Pola ini sama dengan pola permainan yang biasa dimainkan Barcelona, tim yang diklaim sebagai tim paling ofensif di dunia.
Kalaupun Inter sering menempatkan nyaris seluruh pemainnya di garis pertahanan saat diserang lawan, itulah kelebihan Inter sebagai tim. Semua pemain dengan semangat untuk tim bersedia mundur ke belakang untuk menjaga pertahanan. Ndak ada pemain yang egois seperti di tim-tim lain. Di Inter, pertahanan adalah tanggung jawab bersama, bukan cuma tanggung jawab bek. Begitu pula saat menyerang. Bek-bek Inter ndak jarang ikut mencetak gol ke gawang lawan. Sekali lagi, ini karena pemain-pemain Inter bermain sebagai tim. Semua merasa bertanggung jawab untuk menjaga pertahanan dan mencetak gol. Terbukti, ndak ada satu kesebelasan pun yang bisa seperti Inter. Tim lain cuma bergantung kepada para defendernya saat bertahan, yang kalau kebobolan maka itu akan menjadi kesalahan para defender saja, dan sebaliknya cuma mengandalkan para penyerang saja dalam mencetak gol. Di Inter, semua pemain adalah defender di saat bertahan, dan secepat kilat menjadi attacker di saat menyerang. Terima kasih terbesar saya kepada Jose Mourinho yang berhasil mengubah Inter menjadi seperti ini.
Sudahlah, orang lain boleh berkata apa saja. Tapi malam ini, Interlah yang berpesta. Inter menang bukan karena bertahan. Inter menang karena mencetak gol lebih banyak dibandingkan lawan-lawannya. Tim yang defensif ndak akan bisa mencetak lebih banyak gol ke gawang lawannya.
Maka, penantian saya sejak tahun 1989 terbayar musim ini. Inter ndak cuma berhak mengklaim diri sebagai juara Liga Champions, tapi juga peraih treble winner! Hormat saya untuk semua klub dan suporter klub yang menjadi lawan Inter musim ini. Sampai bertemu lagi musim depan!
Grazie ragazzi!! Forza Internazionale!!! Io sono Interista!!!
Kamis, 12 Januari 2012
ARTI ULTRAS SECARA HARIFAH
Dalam bahasa Inggris, kita mengenal bentuk terikat ‘ultra’, artinya adalah ‘teramat sangat’. Ultra juga merupakan nomina, yakni ‘sesuatu yang teramat sangat’. Bentuk jamaknya adalah ultras.
Baik di Amerika maupun Eropa, istilah ultra atau ultras erat kaitannya dengan dunia politik. Kelompok garis keras, itulah kira-kira makna ultras dalam ranah politik. Pertentangan ideologi tersebut merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk ke cabang olah raga terpopuler sejagat, sepak bola.
Ultras dalam konteks sepak bola dimaknai sebagai kelompok suporter garis keras yang sangat fanatik membela timnya. Ultras terdengar ‘nyaring’ pengaruhnya di Italia. Di Negeri Piza tersebut banyak bermunculan sejumlah kelompok suporter fanatik. Kehadirannya dapat dilihat secara kasat mata melalui pakaian dan pernak-pernik yang dikenakan, yang semua berciri khas klub yang dibela.
Di stadion, ultras biasanya menguasai tribun tertentu, meneriakkan yel-yel tanpa henti sepanjang pertandingan, menabuh drum, menyalakan kembang api, dan sebagainya. Sebut saja Fossa de Leoni (suporter garis keras AC Milan), The Boys (Internazionale), Viola Club Viesseux Fiorentina (AC Fiorentina), Granata Ultras Torino (Torino), atau Commando Ultras Curva Sud (AS Roma).
Terjadi saling klaim di antara kelompok-kelompok tersebut soal siapa yang lebih dulu lahir. Namun, satu hal yang patut diperhatikan, istilah ultras itu sendiri menurut berbagai sumber berawal dari kota Genova (Genoa). Adalah kelompok pendukung klub Sampdoria yang pertama kali menggunakan kata ultras sebagai nama diri, yakni Ultras Tito Cucchiaroni.
Kelompok ini lahir pada tahun 1968. Tito Cucchiaroni adalah pemain pilar Sampdoria asal Argentina pada masa itu. Kelompok ini mengambil nama ultras dari bahasa pergaulan anak-anak muda setempat. Di mana pun, lazimnya anak muda, para ABG, memiliki bahasa mereka sendiri. Secara kreatif anak-anak muda itu menciptakan istilah-istilah tertentu yang kadang hanya dapat dipahami oleh kelompok mereka sendiri.
Istilah ultras yang bagi kebanyakan orang diasosiasikan sebagai aliran politik, oleh sekelompok anak muda di kota Genova dijadikan akronim dari Uniti Legneremo Tutti i Rossoblu A Sangue. Kalimat ini tersebar di sejumlah tembok di setiap sudut kota Genova. Arti harfiahnya kira-kira ‘Satuan Pemukul Biru Merah Darah’.
Biru merah darah (sangue rossoblu) adalah warna kostum Genoa, klub sekota Sampdoria. Sebagai mana biasanya dua tim dalam satu kota, Sampdoria dan Genoa mengusung rivalitas ekstrem. Sejak saat itulah istilah ultras merambah dalam dunia sepak bola.
Sumber : Andong Begawan
Ultras Tito Cucchiaroni, ultras pertama di dunia yang berasal dari kota Genoa Italia.
Ernesto Cucchiaroni, pemain Sampdoria kelahiran 16 November 1927 yang turut diabadikan namanya dalam nama Ultras Sampdoria.
Ultras dalam konteks sepak bola dimaknai sebagai kelompok suporter garis keras yang sangat fanatik membela timnya. Ultras terdengar ‘nyaring’ pengaruhnya di Italia. Di Negeri Piza tersebut banyak bermunculan sejumlah kelompok suporter fanatik. Kehadirannya dapat dilihat secara kasat mata melalui pakaian dan pernak-pernik yang dikenakan, yang semua berciri khas klub yang dibela.
Di stadion, ultras biasanya menguasai tribun tertentu, meneriakkan yel-yel tanpa henti sepanjang pertandingan, menabuh drum, menyalakan kembang api, dan sebagainya. Sebut saja Fossa de Leoni (suporter garis keras AC Milan), The Boys (Internazionale), Viola Club Viesseux Fiorentina (AC Fiorentina), Granata Ultras Torino (Torino), atau Commando Ultras Curva Sud (AS Roma).
Terjadi saling klaim di antara kelompok-kelompok tersebut soal siapa yang lebih dulu lahir. Namun, satu hal yang patut diperhatikan, istilah ultras itu sendiri menurut berbagai sumber berawal dari kota Genova (Genoa). Adalah kelompok pendukung klub Sampdoria yang pertama kali menggunakan kata ultras sebagai nama diri, yakni Ultras Tito Cucchiaroni.
Kelompok ini lahir pada tahun 1968. Tito Cucchiaroni adalah pemain pilar Sampdoria asal Argentina pada masa itu. Kelompok ini mengambil nama ultras dari bahasa pergaulan anak-anak muda setempat. Di mana pun, lazimnya anak muda, para ABG, memiliki bahasa mereka sendiri. Secara kreatif anak-anak muda itu menciptakan istilah-istilah tertentu yang kadang hanya dapat dipahami oleh kelompok mereka sendiri.
Istilah ultras yang bagi kebanyakan orang diasosiasikan sebagai aliran politik, oleh sekelompok anak muda di kota Genova dijadikan akronim dari Uniti Legneremo Tutti i Rossoblu A Sangue. Kalimat ini tersebar di sejumlah tembok di setiap sudut kota Genova. Arti harfiahnya kira-kira ‘Satuan Pemukul Biru Merah Darah’.
Biru merah darah (sangue rossoblu) adalah warna kostum Genoa, klub sekota Sampdoria. Sebagai mana biasanya dua tim dalam satu kota, Sampdoria dan Genoa mengusung rivalitas ekstrem. Sejak saat itulah istilah ultras merambah dalam dunia sepak bola.
Sumber : Andong Begawan
CORI-CORI CURVA NORD
1. INTER DEVI VINCERE
Ora, Tutta Quanta La (Sekarang, bahkan seluruh)
Curva, Cantera' Per Te (Curva, bernyanyi untuk kalian)
Inter, Devi Vincere (INTER, kalian menang)
Inter, Devi Vincere (INTER, kali......an menang)
2. NON VI LASCEREMO MAI
Forza Ragazzi Non Vi Lasceremo Mai (Kami tak akan meninggalkanmu)
Forza Ragazzi Non Vi Lasceremo Mai (Kami tak akan meninggalkanmu)
Forza Ragazzi Non Vi Lasceremo Mai (Kami tak akan meninggalkanmu)
La Nord E' Qui Con Voooi (Utara selalu denganmu)
Forza Forza Forza Forza Inter (hidup hidup hidup hidup inter)
Forza Forza Forza Forza Inter (hidup hidup hidup hidup inter)
Forza Forza Forza Forza Inter (hidup hidup hidup hidup inter)
La Nord E' Qui Con Voooi (Utara selalu denganmu)
3.CHI NO SIAMO
La Gente Vuol Sapere (Orang Ingin tahu)
Chi Noi Siamo? (Chino Siamo?) (Siapa kami?)
Glielo Diciamo (Glielo Diciamo) (Kami akan mengatakan)
Chi Noi Siamo? (Chino Siamo?) (Siapa kami?)
Siamo L'armata Nerazzurra (Kami adalah Pasukan Biru Hitam)
E Mai Nessun Ci Fermera' (Dan kami takkan berhenti)
Noi Saremo Sempre Qua (Kami akan selalu disini)
Quando L'inter Giochera' (Ketika INTER bermain)
Perche' L'inter E' La Squadra Degli Ultra' (Itulah kenpa kami menjadi ULTRAS INTER)
Nerazzurro E' Il Colore Che Amiamo (Untuk INTER dan orang-orang yang kami cintai)
Nerazzurro Sei Tutto Per Noi (INTER adalah segalanya bagi kami)
A San Siro, In Italia, In Europa Sei (Di San Siro, Italia dan Eropa)
La Fede Di Noi Tuoi Ultras (Itulah kenapa kami menjadi pendukung setia)
Lalalallalalalalala.....
4. SEMPRE CON VOI
Siamo Sempre Con Voi (Kami selalu denganmu)
Siamo Sempre Con Voi (Kami selalu denganmu)
Siamo Sempre Con Voi (Kami selalu denganmu)
Non Vi Lasceremo Mai (Takkan pernah meninggalkanmu)
Forza INTER E-Eh (hidup inter E-Eh)
Forza INTER O-O (hidup inter O-Oh)
Forza INTER E-Eh (hidup Inter E-Eh)
Forza INTER Ale Ale (hidup inter Ale ALe)
5. INTER TERITORY MILAN –ldinyanyikan saat derby
Siamo Noi.. Siamo Noi...
(Kami adalah... Kami adalah...)
Inter Teritory Milan Siamo Noi... (Milan wilayah kami,INTER)
6. INTER TERITORY ITALY –Jika Inter main di Italia
Siamo Noi.. Siamo Noi...
(Kami adalah... Kami adalah...)
Inter Teritory Italy Siamo Noi... (Italia wilayah kami,INTER)
7. INTER TERITORY EUROPA –jika Inter main di Eropa
Siamo Noi.. Siamo Noi...
(Kami adalah... Kami adalah...)
Inter Teritory Europa Siamo Noi... (Eropa wilayah kami,INTER)
8. VINCERE –satu orang teriak bait pertama, yang lain ikuti bait kedua, ulang 3kali-
Uno, Due, Tre! (Satu, dua, tiga!)
VINCERE!
(Menang!)
Lalu lanjut lirik berikut
INTER! INTER! INTER!
Ole... Ole Ole Ole... Inter... Inter...
Ole... Ole Ole Ole... Inter... Inter...
9. CHI NON SALTA ROSSONERRO / JUVENTINI
Chi Non Salta Rossonerro / Juventino
10. O MIA BELA MADUNINA (di nyanyikan saat derby)
O MIA BELA MADUNINA CHE TE BRILET DE LUNTAN TUTA D'ORO E PISCININA TI TE DOMINET MILAN SOT A TI SE VIV LA VITA SE STA MAI CUI MAN IN MAN CANTEN TUCH LUNTAN DE NAPULI SE MOEUR MA POI VEGNEN CHI A MILAN TERUN!!
Ora, Tutta Quanta La (Sekarang, bahkan seluruh)
Curva, Cantera' Per Te (Curva, bernyanyi untuk kalian)
Inter, Devi Vincere (INTER, kalian menang)
Inter, Devi Vincere (INTER, kali......an menang)
2. NON VI LASCEREMO MAI
Forza Ragazzi Non Vi Lasceremo Mai (Kami tak akan meninggalkanmu)
Forza Ragazzi Non Vi Lasceremo Mai (Kami tak akan meninggalkanmu)
Forza Ragazzi Non Vi Lasceremo Mai (Kami tak akan meninggalkanmu)
La Nord E' Qui Con Voooi (Utara selalu denganmu)
Forza Forza Forza Forza Inter (hidup hidup hidup hidup inter)
Forza Forza Forza Forza Inter (hidup hidup hidup hidup inter)
Forza Forza Forza Forza Inter (hidup hidup hidup hidup inter)
La Nord E' Qui Con Voooi (Utara selalu denganmu)
3.CHI NO SIAMO
La Gente Vuol Sapere (Orang Ingin tahu)
Chi Noi Siamo? (Chino Siamo?) (Siapa kami?)
Glielo Diciamo (Glielo Diciamo) (Kami akan mengatakan)
Chi Noi Siamo? (Chino Siamo?) (Siapa kami?)
Siamo L'armata Nerazzurra (Kami adalah Pasukan Biru Hitam)
E Mai Nessun Ci Fermera' (Dan kami takkan berhenti)
Noi Saremo Sempre Qua (Kami akan selalu disini)
Quando L'inter Giochera' (Ketika INTER bermain)
Perche' L'inter E' La Squadra Degli Ultra' (Itulah kenpa kami menjadi ULTRAS INTER)
Nerazzurro E' Il Colore Che Amiamo (Untuk INTER dan orang-orang yang kami cintai)
Nerazzurro Sei Tutto Per Noi (INTER adalah segalanya bagi kami)
A San Siro, In Italia, In Europa Sei (Di San Siro, Italia dan Eropa)
La Fede Di Noi Tuoi Ultras (Itulah kenapa kami menjadi pendukung setia)
Lalalallalalalalala.....
4. SEMPRE CON VOI
Siamo Sempre Con Voi (Kami selalu denganmu)
Siamo Sempre Con Voi (Kami selalu denganmu)
Siamo Sempre Con Voi (Kami selalu denganmu)
Non Vi Lasceremo Mai (Takkan pernah meninggalkanmu)
Forza INTER E-Eh (hidup inter E-Eh)
Forza INTER O-O (hidup inter O-Oh)
Forza INTER E-Eh (hidup Inter E-Eh)
Forza INTER Ale Ale (hidup inter Ale ALe)
5. INTER TERITORY MILAN –ldinyanyikan saat derby
Siamo Noi.. Siamo Noi...
(Kami adalah... Kami adalah...)
Inter Teritory Milan Siamo Noi... (Milan wilayah kami,INTER)
6. INTER TERITORY ITALY –Jika Inter main di Italia
Siamo Noi.. Siamo Noi...
(Kami adalah... Kami adalah...)
Inter Teritory Italy Siamo Noi... (Italia wilayah kami,INTER)
7. INTER TERITORY EUROPA –jika Inter main di Eropa
Siamo Noi.. Siamo Noi...
(Kami adalah... Kami adalah...)
Inter Teritory Europa Siamo Noi... (Eropa wilayah kami,INTER)
8. VINCERE –satu orang teriak bait pertama, yang lain ikuti bait kedua, ulang 3kali-
Uno, Due, Tre! (Satu, dua, tiga!)
VINCERE!
(Menang!)
Lalu lanjut lirik berikut
INTER! INTER! INTER!
Ole... Ole Ole Ole... Inter... Inter...
Ole... Ole Ole Ole... Inter... Inter...
9. CHI NON SALTA ROSSONERRO / JUVENTINI
Chi Non Salta Rossonerro / Juventino
10. O MIA BELA MADUNINA (di nyanyikan saat derby)
O MIA BELA MADUNINA CHE TE BRILET DE LUNTAN TUTA D'ORO E PISCININA TI TE DOMINET MILAN SOT A TI SE VIV LA VITA SE STA MAI CUI MAN IN MAN CANTEN TUCH LUNTAN DE NAPULI SE MOEUR MA POI VEGNEN CHI A MILAN TERUN!!
Rabu, 11 Januari 2012
INTER SISI PUTIH DALAM SEPAK BOLA ITALIA
GW HANYA MAU BICARA SEBUAH FAKTA YG ADA..
FC INTERNAZIONALE MILANO
adalah club kebanggan bagi seorang yg mencintai kejujuran,fairpaly,sebuah catatn bersih,
berdiri 1908 dan kini 2012,,104 tahun INTER berdiri,,tanpa ada satupun catatan kotor,tapi ternyata di balik itu semua,rivalitas yg kotor di tujukan RIVAL terhadap INTER,begitu bayak cara mereka melakukan,,gw jabarkan dari satu2,,scandal yg merugikan INTER.
GOLDEN FIX
ini sebuah artikel oleh Brian Glanville :
di Bawah flamboyan managership kejam dari Helenio Herrera, memenangkan Piala Eropa dua kali, scudetto empat kali. Dalam pelatihan Inter tanah serambi berdiri sebuah patung Angelo Moratti, di bawah pidato yang paling berlebihan. Tapi ketika Keith Botsford, rekan Amerika saya, dan saya sedang menyelidiki apa yang kami sebut Tahun Emas Fix, terungkap bahwa kemenangan Eropa Inter pada tahun 1960 adalah buah dari suap dan korupsi di Angelo Moratti yang memainkan peran penting dalam proses yang dilakukan oleh dua orang, juga sekarang sudah mati: Dezso Solti, Hungaria fixer, dan Italo Allodi ular. Inter sekretaris, ia menjadi manajer umum Juventus ketika kami menunjukkan mereka untuk menjadi bersalah karena usaha yang gagal untuk "membeli" sebuah Portugis wasit.
Tiga tahun berturut-turut, Inter membuat penawaran untuk referensi di Piala Eropa leg kedua semifinal akan dimainkan di San Siro dan dua kali berhasil, pada tahun 1964 dan 1965, ketika mereka kemudian memenangkan final. Pada ketiga kesempatan tersebut, pada tahun 1966, Gyorgy Vadas, seorang pemberani Hungaria resmi, menolak untuk disuap. Real Madrid bertahan dan terus mengangkat piala. Pada tahun 1964, pasien Borussia Dortmund, pemain kunci yang telah dikirim. Pada tahun 1965 itu adalah Liverpool, yang korban dua keputusan mengerikan oleh Ortiz de Mendibil, pembalap Spanyol. Botsford dan aku tahu bahwa Vadas menolak untuk di suap; membuatnya berbicara tahun kemudian adalah masalah.
Pada pagi hari pertandingan, gelandang dan Vadas diundang untuk Angelo Moratti's vila untuk makan siang. Dia segera memberi masing-masing arloji emas. Selama makan malam, ia mengatakan kepada mereka untuk membeli televisi berwarna Solti dan sejumlah peralatan listrik. Tapi wasit Vadas pertandingan tanpa cela. Setengah waktu, Solti menyerbu ke ruang ganti, mengeluh bahwa ia telah gagal untuk memberikan tiga hukuman. 5 Di hari berikutnya, menelepon temannya Solti, Gyorgy Honti, sekretaris federasi sepak bola Hongaria, untuk memberitahukan bahwa Inter telah ditipu Vadas keluar dari permainan. Kembali di Budapest, Vadas dihadapi oleh Honti marah.
Pada pagi hari pertandingan, gelandang dan Vadas diundang untuk Angelo Moratti's vila untuk makan siang. Dia segera memberi masing-masing arloji emas. Selama makan malam, ia mengatakan kepada mereka untuk membeli televisi berwarna Solti dan sejumlah peralatan listrik. Tapi wasit Vadas pertandingan tanpa cela. Setengah waktu, Solti menyerbu ke ruang ganti, mengeluh bahwa ia telah gagal untuk memberikan tiga hukuman. 5 Di hari berikutnya, menelepon temannya Solti, Gyorgy Honti, sekretaris federasi sepak bola Hongaria, untuk memberitahukan bahwa Inter telah ditipu Vadas keluar dari permainan. Kembali di Budapest, Vadas dihadapi oleh Honti marah.
Tapi Angelo Moratti masih dihormati. Apakah ini kelemahan yang aneh kejam tentara Italia, yang condottiere? Anda merasa lebih untuk sekarang - setidaknya oleh Silvio Berlusconi, Perdana Menteri Italia - untuk melabur Mussolini, lupa perlakuan brutal para petani, pembunuhan pembangkang. Angelo Moratti tidak membunuh siapa pun, tetapi tampaknya aneh ...... Seperti pahlawan Akhir Maaf tidak ada cerita lain dari wasit yang menerima suap dari Juventus, ketika Allodi adalah GM, dan dengan cara melawan Derby Clough di 70's...
SCUDETTO 1998 DI CURI JUVENTUS
Setelah 11 tahun, mantan wasit Serie A, Piero Ceccarini membuat pengakuan. Ia mengaku telah membuat kesalahan saat memimpin partai Juventus versus Internazionale Milan.
Ceccarini mengaku telah memberikan keuntungan bagi Juventus. Pada pertandingan yang digelar 26 April 1998 lalu Juve akhirnya menang 1-0.
Kontroversi itu berawal saat pelanggaran Mark Iuliano kepada Ronaldo, namun ia tak menggubrisnya. Padahal, saat itu jelas pelanggaran dibuat di dalam kotak penalti.
Yang jadi pemicu kontroversi, Si Nyonya Besar tetap memainkan bola dan akhirnya pelanggaran Taribo West pada Alessandro Del Piero diganjar penalti. Kontan keputusan Ceccarini ini membuat para pemain Inter marah besar, termasuk pelatih Nerazzurri saat itu Luigi Simoni. Alhasil, Juventus akhirnya mencatat kemenangan 1-0 di Stadion Delle Alpi.
“Saya melihat pertandingan ulang hari berikutnya. Dan saya memang telah membuat sebuah kesalahan," ujar Ceccarini seperti dikutip La Gazzetta dello Sport.
“Bagaimana pun saya seharusnya menghadiahkan tendangan bebas di kotak penalti. Saya hanya tidak ingin bersikap arogan, tapi itu memang akhirnya menjadi noda. Saya terus membiarkan pertandingan dan 30 menit kemudian saya menghadiahi Juventus sebuah penalti," bebernya.
Usai pertandingan itu sendiri, kehidupan Ceccarini dan keluarganya selalu terancam. Bahkan, beberapa kali Ceccarini dan keluarganya selalu mendapat teror atas keputusan kontroversialnya itu."Scudetto Inter Juga Dirampok"Keputusan kontroversial itu akhirnya membuat Juventus merengkuh scudetto. Juventus meraih 74 poin sedang Inter 69 poin. Padahal, jika di laga itu Inter menang maka Juve hanya meraih 71 poin sedang Inter 72. Tak heran jika Simoni juga ngotot gelar scudetto 1998 Juventus dicopot.
"Sudah ada pengakuan yang membuat saya senang. Tapi, mereka tetap tidak menyerahkan scudetto atas hasil ini," ujar Simoni.
"Saya ingat pelanggaran yang diterima Ronaldo dan membuat kami termasuk fans protes. Saya hampir ingin meninggalkan lapangan. Scudetto harusnya milik kami jika kami menang di Turin," tutupnya.
CALCIOPOLI 2006
Skandal Seri A (juga populer disebut Calciopoli di media massa) adalah skandal pengaturan skor pertandingan dalam liga sepak bola Italia Serie A yang dibuka pada Mei 2006 oleh polisi Italia, melibatkan juara liga Juventus, dan klub-klub terkemuka lainnya A.C. Milan, Fiorentina, dan Lazio. Mereka dituduh mengatur permainan dengan memilih wasit tertentu, dan beberapa pemain dituduh memperjudikan pertandingan sepak bola secara ilegal.
Penyelidikan ini mencakup tuduhan pengaturan skor oleh beberapa klub terkenal, termasuk Juventus, A.C. Milan, Fiorentina, dan Lazio. Keempat klub yang sedang diselidiki ini adalah klub asal dari 13 pemain Italia dalam Piala Dunia FIFA 2006. Skandal ini pertama ditemukan karena penyelidikan doping di Juventus, di mana beberapa alat penyadap dipasang. Transkrip pembicaraan telepon diterbitkan di surat-surat kabar Italia, di antaranya adalah pembicaraan manajer umum Juventus, Luciano Moggi pada musim pertandingan 2004-05 mengenai pengaturan pertandingan, perjudian, dan pemalsuan catatan keuangan. Moggi sendiri kemudian diberi sanksi dilarang aktif di persepak bolaan selama lima tahun.
FC INTERNAZIONALE MILANO
adalah club kebanggan bagi seorang yg mencintai kejujuran,fairpaly,sebuah catatn bersih,
berdiri 1908 dan kini 2012,,104 tahun INTER berdiri,,tanpa ada satupun catatan kotor,tapi ternyata di balik itu semua,rivalitas yg kotor di tujukan RIVAL terhadap INTER,begitu bayak cara mereka melakukan,,gw jabarkan dari satu2,,scandal yg merugikan INTER.
GOLDEN FIX
ini sebuah artikel oleh Brian Glanville :
di Bawah flamboyan managership kejam dari Helenio Herrera, memenangkan Piala Eropa dua kali, scudetto empat kali. Dalam pelatihan Inter tanah serambi berdiri sebuah patung Angelo Moratti, di bawah pidato yang paling berlebihan. Tapi ketika Keith Botsford, rekan Amerika saya, dan saya sedang menyelidiki apa yang kami sebut Tahun Emas Fix, terungkap bahwa kemenangan Eropa Inter pada tahun 1960 adalah buah dari suap dan korupsi di Angelo Moratti yang memainkan peran penting dalam proses yang dilakukan oleh dua orang, juga sekarang sudah mati: Dezso Solti, Hungaria fixer, dan Italo Allodi ular. Inter sekretaris, ia menjadi manajer umum Juventus ketika kami menunjukkan mereka untuk menjadi bersalah karena usaha yang gagal untuk "membeli" sebuah Portugis wasit.
Tiga tahun berturut-turut, Inter membuat penawaran untuk referensi di Piala Eropa leg kedua semifinal akan dimainkan di San Siro dan dua kali berhasil, pada tahun 1964 dan 1965, ketika mereka kemudian memenangkan final. Pada ketiga kesempatan tersebut, pada tahun 1966, Gyorgy Vadas, seorang pemberani Hungaria resmi, menolak untuk disuap. Real Madrid bertahan dan terus mengangkat piala. Pada tahun 1964, pasien Borussia Dortmund, pemain kunci yang telah dikirim. Pada tahun 1965 itu adalah Liverpool, yang korban dua keputusan mengerikan oleh Ortiz de Mendibil, pembalap Spanyol. Botsford dan aku tahu bahwa Vadas menolak untuk di suap; membuatnya berbicara tahun kemudian adalah masalah.
Pada pagi hari pertandingan, gelandang dan Vadas diundang untuk Angelo Moratti's vila untuk makan siang. Dia segera memberi masing-masing arloji emas. Selama makan malam, ia mengatakan kepada mereka untuk membeli televisi berwarna Solti dan sejumlah peralatan listrik. Tapi wasit Vadas pertandingan tanpa cela. Setengah waktu, Solti menyerbu ke ruang ganti, mengeluh bahwa ia telah gagal untuk memberikan tiga hukuman. 5 Di hari berikutnya, menelepon temannya Solti, Gyorgy Honti, sekretaris federasi sepak bola Hongaria, untuk memberitahukan bahwa Inter telah ditipu Vadas keluar dari permainan. Kembali di Budapest, Vadas dihadapi oleh Honti marah.
Pada pagi hari pertandingan, gelandang dan Vadas diundang untuk Angelo Moratti's vila untuk makan siang. Dia segera memberi masing-masing arloji emas. Selama makan malam, ia mengatakan kepada mereka untuk membeli televisi berwarna Solti dan sejumlah peralatan listrik. Tapi wasit Vadas pertandingan tanpa cela. Setengah waktu, Solti menyerbu ke ruang ganti, mengeluh bahwa ia telah gagal untuk memberikan tiga hukuman. 5 Di hari berikutnya, menelepon temannya Solti, Gyorgy Honti, sekretaris federasi sepak bola Hongaria, untuk memberitahukan bahwa Inter telah ditipu Vadas keluar dari permainan. Kembali di Budapest, Vadas dihadapi oleh Honti marah.
Tapi Angelo Moratti masih dihormati. Apakah ini kelemahan yang aneh kejam tentara Italia, yang condottiere? Anda merasa lebih untuk sekarang - setidaknya oleh Silvio Berlusconi, Perdana Menteri Italia - untuk melabur Mussolini, lupa perlakuan brutal para petani, pembunuhan pembangkang. Angelo Moratti tidak membunuh siapa pun, tetapi tampaknya aneh ...... Seperti pahlawan Akhir Maaf tidak ada cerita lain dari wasit yang menerima suap dari Juventus, ketika Allodi adalah GM, dan dengan cara melawan Derby Clough di 70's...
SCUDETTO 1998 DI CURI JUVENTUS
Setelah 11 tahun, mantan wasit Serie A, Piero Ceccarini membuat pengakuan. Ia mengaku telah membuat kesalahan saat memimpin partai Juventus versus Internazionale Milan.
Ceccarini mengaku telah memberikan keuntungan bagi Juventus. Pada pertandingan yang digelar 26 April 1998 lalu Juve akhirnya menang 1-0.
Kontroversi itu berawal saat pelanggaran Mark Iuliano kepada Ronaldo, namun ia tak menggubrisnya. Padahal, saat itu jelas pelanggaran dibuat di dalam kotak penalti.
Yang jadi pemicu kontroversi, Si Nyonya Besar tetap memainkan bola dan akhirnya pelanggaran Taribo West pada Alessandro Del Piero diganjar penalti. Kontan keputusan Ceccarini ini membuat para pemain Inter marah besar, termasuk pelatih Nerazzurri saat itu Luigi Simoni. Alhasil, Juventus akhirnya mencatat kemenangan 1-0 di Stadion Delle Alpi.
“Saya melihat pertandingan ulang hari berikutnya. Dan saya memang telah membuat sebuah kesalahan," ujar Ceccarini seperti dikutip La Gazzetta dello Sport.
“Bagaimana pun saya seharusnya menghadiahkan tendangan bebas di kotak penalti. Saya hanya tidak ingin bersikap arogan, tapi itu memang akhirnya menjadi noda. Saya terus membiarkan pertandingan dan 30 menit kemudian saya menghadiahi Juventus sebuah penalti," bebernya.
Usai pertandingan itu sendiri, kehidupan Ceccarini dan keluarganya selalu terancam. Bahkan, beberapa kali Ceccarini dan keluarganya selalu mendapat teror atas keputusan kontroversialnya itu."Scudetto Inter Juga Dirampok"Keputusan kontroversial itu akhirnya membuat Juventus merengkuh scudetto. Juventus meraih 74 poin sedang Inter 69 poin. Padahal, jika di laga itu Inter menang maka Juve hanya meraih 71 poin sedang Inter 72. Tak heran jika Simoni juga ngotot gelar scudetto 1998 Juventus dicopot.
"Sudah ada pengakuan yang membuat saya senang. Tapi, mereka tetap tidak menyerahkan scudetto atas hasil ini," ujar Simoni.
"Saya ingat pelanggaran yang diterima Ronaldo dan membuat kami termasuk fans protes. Saya hampir ingin meninggalkan lapangan. Scudetto harusnya milik kami jika kami menang di Turin," tutupnya.
CALCIOPOLI 2006
Skandal Seri A (juga populer disebut Calciopoli di media massa) adalah skandal pengaturan skor pertandingan dalam liga sepak bola Italia Serie A yang dibuka pada Mei 2006 oleh polisi Italia, melibatkan juara liga Juventus, dan klub-klub terkemuka lainnya A.C. Milan, Fiorentina, dan Lazio. Mereka dituduh mengatur permainan dengan memilih wasit tertentu, dan beberapa pemain dituduh memperjudikan pertandingan sepak bola secara ilegal.
Penyelidikan ini mencakup tuduhan pengaturan skor oleh beberapa klub terkenal, termasuk Juventus, A.C. Milan, Fiorentina, dan Lazio. Keempat klub yang sedang diselidiki ini adalah klub asal dari 13 pemain Italia dalam Piala Dunia FIFA 2006. Skandal ini pertama ditemukan karena penyelidikan doping di Juventus, di mana beberapa alat penyadap dipasang. Transkrip pembicaraan telepon diterbitkan di surat-surat kabar Italia, di antaranya adalah pembicaraan manajer umum Juventus, Luciano Moggi pada musim pertandingan 2004-05 mengenai pengaturan pertandingan, perjudian, dan pemalsuan catatan keuangan. Moggi sendiri kemudian diberi sanksi dilarang aktif di persepak bolaan selama lima tahun.
SEJARAH DERBY DELLA MADONNINA
Menagapa derby ini dinamakan derby della madonina ?
karena untuk menghormati salah satu tempat wisata utama kota Milan, yaitu patung Bunda Maria di atas Duomo, yang biasanya disebut "Madonnina".
Pada Tahun 1908 terjadi perpecahan dalam tubuh AC Milan, dan mengakibatkan berdirinya sebuah klub baru yaitu FC Internazionale Milano yang biasa disebut juga FC Inter Milan. Di masa lalu inter dipandang sebagai klub kaum borjuis sedangkan Milan adalah tim kelas pekerja.Namun pandangan itu hilang saat milan diambil oleh slah satu orang terkaya di Italia yaitu Silvo Berlusconi yang sekarang menjabat sebagai perdana menteri Italia.
Pada tahun 1960, Inter adalah klub tersukses dikota milan dan berhasil, memenangkan Piala Eropa dua kali berturut-turut dan Piala Interkontinental dua kali berturut-turut.
Namun pada akhir 1980-an dan 1990-an Milan adalah tim yang lebih dominan, dengan banyak kemenangan baik di Italia dan di kompetisi Eropa.
Rivalitas Rivera dan Mazzola
Tak terelakkan, Piala Dunia 1970 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah rivalitas kedua tim.
Italia dilatih Ferrucio Valcareggi, yang sukses membawa Azzurri menjuarai Piala Eropa 1968. Selama kiprahnya menangani Nazionale, 1966 hingga 1974, Valcareggi hanya memetik enam kekalahan! Salah satu kekalahan itu terjadi di final Piala Dunia 1970 dari Brasil, 4-1.
Sepanjang turnamen itu, Valcareggi menggunakan taktik pergantian, "staffetta". Valcareggi menganggap dua bintang Italia, Sandro Mazzola dan Gianni Rivera tak dapat dimainkan bersama-sama. Mazzola punya keunggulan dari segi fisik, cepat, gemar menyerang lewat sektor sayap, dan punya kemampuan menggiring bola yang sulit dihentikan lawan. Sementara, kekuatan Rivera terletak pada kemampuan individual, tak kenal takut, dan punya visi yang tajam.
Bukan kebetulan pula, keduanya bintang tim masing-masing saat itu. Mazzola adalah inspirasi Inter, sedangkan Rivera menjadi pemain yang paling diandalkan Milan.
Valcareggi biasanya memainkan Mazzola pada babak pertama dan memasukkan Rivera untuk menggantikannya usai jeda. Saat perempat-final melawan tuan rumah Meksiko, Rivera mencetak dua gol untuk melengkapi kemenangan 4-1.
Pada semi-final melawan Jerman (Barat), Rivera mengulangi kegemilangan itu. Pertandingan itu menjadi salah satu pertandingan terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia. Kejar mengejar skor terjadi. Kemenangan Italia diraih setelah melalui babak perpanjangan waktu, 4-3, dan Rivera mencetak gol kemenangan pada menit ke-111. Dalam pertandingan itu, bahu kapten Jerman, Franz Beckenbauer, terkilir, tapi tetap meneruskan permainan dengan satu tangan dibebat.
Namun, kegemilangan itu rupanya tidak otomatis berbuah kepercayaan. Menghadapi Brasil di final, Valcareggi memainkan Mazzola sejak menit pertama karena menganggap kekuatan fisik pemain andalan Inter itu dapat merusak irama lini tengah Brasil. Babak pertama berakhir imbang 1-1 dan berlawanan dari kebiasaannya, Valcareggi tetap memainkan Mazzola usai turun minum.
Sejarah mencatat strategi tersebut gagal total. Brasil akhirnya merebut piala Jules Rimet dengan kemenangan mutlak 4-1. Rivera hanya dimainkan enam menit sebelum pertandingan berakhir.
Hampir 40 tahun kemudian, kepada Corriere della Sera, kedua pemain membahas "staffetta".
"Gianni dan saya tak pernah bermusuhan," tukas Mazzola.
"Kami sama-sama mengakui keunggulan masing-masing. Malam sebelum turnamen dimulai, saya terkena disentri dan pelatih pun memainkan saya hanya pada babak pertama."
Rivera sendiri terkesan masih belum menerima kenyataan hanya bermain enam menit di final.
"Ada tudingan miring yang ditujukan kepada saya, tapi saya tak pernah tahu siapa," ujarnya.
"Kami mencapai final dan itu merupakan bukti sepakbola bisa dilakukan tanpa peran pelatih. Ada manuver yang menyebabkan saya tidak bermain di final."
Ketika Milan kembali berhadapan dengan Inter di lapangan San Siro akhir pekan ini, kenanglah juga rivalitas "Il Baffo" Mazzola dan "Golden Boy ol'Abatino" Rivera empat dasawarsa yang lalu...
Trio Belanda vs Troi Jerman
Ketika Milan memiliki trio Belanda, Ruud Gullit-Marco van Basten-Frank Rijkaard, Inter langsung menandingi dengan trio Jerman: Andreas Brehme-Lothar Matthaeus-Juergen Klinsmann. Ini jelas indikasi persaingan karena di era 1980 dan 1990-an, Belanda-Jerman adalah dua musuh bebuyutan.
Ketika Belanda bertemu Jerman di Piala Dunia, pertandingan itu dimainkan di tanah kandang Inter dan Milan yaitu San Siro, dan bagi banyak orang partai itu rasanya seperti versi tim nasional dari derby Milan karena saat itu piala dunia 1990 d selengarakan di Italia.
Permainan berlangsung sedkit kasar dan yang berakhir dengan kekalahan untuk Belanda.Jerman memenangkan pertandingan 2-1 dengan dua pemain Inter Klinsman dan Brehme mencetak kemenangan.
Salah satu yg menarik adalah ketika Rijkaard meludahi Rudi Völler .
Setelah masa itu, milan adalah penguasa kota milan sampai pada tahun 2006 Milan dan Juvewntus bersama beberapa klub lain terkena sangsi akibat skandal calciopoli. Kini Milaan perlahan bangkit dan menjadi capolista selama hampir satu musim dan Inter yang terseok - seok pada awal musim berhasil memangkas selisih menjadi 2 poin untuk mempertahankan gelarnya.
Data dan Fakta :
1995-1996
Inter 1–1 Milan Serie A Paganin 19' Savicevic 46'
Milan 0–1Inter Serie A Branca 5'
1996-1997
Milan 1–1 Inter Serie A Baggio 4' Djorkaeff 12'
Inter 3–1 Milan Serie A Djorkaeff 32' (pen), Zamorano 43', Ganz 58' Baggio 88'
1997-1998
Inte r2–2 Milan Serie A Simeone 13', Ronaldo 68' (pen) Weah 29', Cruz 80' (pen)
Milan 0–3 Inter Serie A Simeone 42',87', Ronaldo 77'
Milan 5-0 Inter Coppa Italia Albertini 28' (pen), Ganz 33', Savicevic 43', Colonnese 46' (o.g.), Nilsen 60'
Inter1–0Milan Coppa Italia Branca 31'
1998-1999
Milan2–2Inter Serie A Weah 13', Albertini 60' (pen) Ronaldo 7', Moriero 48'
Inter 2–2 Milan Serie A N'Gotty 7' (o.g.), Ganz 90' (pen) Leonardo 14', 52'
1999-2000
Inter 1–2 Milan Serie A Ronaldo 20' (pen) Shevchenko 28', Weah 89'
Milan 1–2 Inter Serie A Shevchenko 90' (pen) Zamorano 43', Di Biagio 63'
Milan2–3 Inter Coppa Italia Shevchenko 44', 55' Vieri 28', Mutu 53, Seedorf 68'
Inter 1–1 Milan Coppa Italia Baggio 37' Shevchenko 35'
2000-2001
Milan 2–2 Inter Serie A Boban 65', Bierhoff 84' Şükür 11', Di Biagio 72'
Inter 0–6 Milan Serie A - Comandini 3', 19', Giunti 53', Shevchenko 67', 78, Serginho 81'
2002-2001
Inter 2–4 Milan... Serie A Ventola 13' Kallon 90' Shevchenko 59', 77', Contra 61', Inzaghi 66'
Milan 0–1Inter.. Serie A - Vieri 78'
2001-2002
Milan 1–0 Inter Serie A Serginho 12' -
Inter 0–1Milan Serie A - Inzaghi 11' (pen.)
2002-2003
Milan 0–0 Inter UEFA CL - -
Inter 1–1Milan UEFA CL Martins 84' Shevchenko 45'
2003-2004
Inter 1–3 Milan Serie A Martins 79' Inzaghi 39', Kaká 46', Shevchenko 77'
Milan 3–2 Inter Serie A Tomasson 56', Kaká 57', Seedorf 58' Stanković 15', Zanetti 40'
2004-2005
Milan 0–0 Inter Serie A - -
Inter 0–1Milan Serie A Kakà 77', -
2004-2005 UCL
Milan 2–0 Inter UEFA CL Stam 46', Shevchenko 76' -
Inter 0–1 Milan UEFA CL ,Shevchenko 30'
2005-2006
Inter 3–2 Milan Serie A Adriano 24', 93', Martins 61' Shevchenko 39', Stam 85'
Milan 1–0 Inter Serie A Kaladze 71', -
2006-2007
Milan 3–4 Inter Serie A Seedorf 53', Gilardino 79', Kakà 94' Crespo 17', Stanković 22', Ibrahimovic 50', Materazzi 72'
Inter 2–1Milan Serie A Cruz 56', Ibrahimovic 76' Ronaldo 40'
2007-2008
Inter 2–1 Milan Serie A Cruz 36', Cambiasso 64' Pirlo 18'
Milan 2–1 Inter Serie A Inzaghi 53', Kakà 58' Cruz 78'
2008-2009
Milan 1–0 Inter Serie A Ronaldinho 36' -
Inter 2 -1Milan Serie A Adriano 29', Stanković 43' Pato 72'
2009-2010
Milan 0–4 Inter Serie A - Motta 29', Milito 36' (pen), Maicon 46', Stanković 70'
Inter 2–0 Milan Serie A Milito 10', Pandev 67' -
2010-2011
Milan 2-0 Inter SerieA
Inter 0-3 Milan Serie A
Milan 2-1 Inter super copa
karena untuk menghormati salah satu tempat wisata utama kota Milan, yaitu patung Bunda Maria di atas Duomo, yang biasanya disebut "Madonnina".
Pada Tahun 1908 terjadi perpecahan dalam tubuh AC Milan, dan mengakibatkan berdirinya sebuah klub baru yaitu FC Internazionale Milano yang biasa disebut juga FC Inter Milan. Di masa lalu inter dipandang sebagai klub kaum borjuis sedangkan Milan adalah tim kelas pekerja.Namun pandangan itu hilang saat milan diambil oleh slah satu orang terkaya di Italia yaitu Silvo Berlusconi yang sekarang menjabat sebagai perdana menteri Italia.
Pada tahun 1960, Inter adalah klub tersukses dikota milan dan berhasil, memenangkan Piala Eropa dua kali berturut-turut dan Piala Interkontinental dua kali berturut-turut.
Namun pada akhir 1980-an dan 1990-an Milan adalah tim yang lebih dominan, dengan banyak kemenangan baik di Italia dan di kompetisi Eropa.
Rivalitas Rivera dan Mazzola
Tak terelakkan, Piala Dunia 1970 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah rivalitas kedua tim.
Italia dilatih Ferrucio Valcareggi, yang sukses membawa Azzurri menjuarai Piala Eropa 1968. Selama kiprahnya menangani Nazionale, 1966 hingga 1974, Valcareggi hanya memetik enam kekalahan! Salah satu kekalahan itu terjadi di final Piala Dunia 1970 dari Brasil, 4-1.
Sepanjang turnamen itu, Valcareggi menggunakan taktik pergantian, "staffetta". Valcareggi menganggap dua bintang Italia, Sandro Mazzola dan Gianni Rivera tak dapat dimainkan bersama-sama. Mazzola punya keunggulan dari segi fisik, cepat, gemar menyerang lewat sektor sayap, dan punya kemampuan menggiring bola yang sulit dihentikan lawan. Sementara, kekuatan Rivera terletak pada kemampuan individual, tak kenal takut, dan punya visi yang tajam.
Bukan kebetulan pula, keduanya bintang tim masing-masing saat itu. Mazzola adalah inspirasi Inter, sedangkan Rivera menjadi pemain yang paling diandalkan Milan.
Valcareggi biasanya memainkan Mazzola pada babak pertama dan memasukkan Rivera untuk menggantikannya usai jeda. Saat perempat-final melawan tuan rumah Meksiko, Rivera mencetak dua gol untuk melengkapi kemenangan 4-1.
Pada semi-final melawan Jerman (Barat), Rivera mengulangi kegemilangan itu. Pertandingan itu menjadi salah satu pertandingan terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia. Kejar mengejar skor terjadi. Kemenangan Italia diraih setelah melalui babak perpanjangan waktu, 4-3, dan Rivera mencetak gol kemenangan pada menit ke-111. Dalam pertandingan itu, bahu kapten Jerman, Franz Beckenbauer, terkilir, tapi tetap meneruskan permainan dengan satu tangan dibebat.
Namun, kegemilangan itu rupanya tidak otomatis berbuah kepercayaan. Menghadapi Brasil di final, Valcareggi memainkan Mazzola sejak menit pertama karena menganggap kekuatan fisik pemain andalan Inter itu dapat merusak irama lini tengah Brasil. Babak pertama berakhir imbang 1-1 dan berlawanan dari kebiasaannya, Valcareggi tetap memainkan Mazzola usai turun minum.
Sejarah mencatat strategi tersebut gagal total. Brasil akhirnya merebut piala Jules Rimet dengan kemenangan mutlak 4-1. Rivera hanya dimainkan enam menit sebelum pertandingan berakhir.
Hampir 40 tahun kemudian, kepada Corriere della Sera, kedua pemain membahas "staffetta".
"Gianni dan saya tak pernah bermusuhan," tukas Mazzola.
"Kami sama-sama mengakui keunggulan masing-masing. Malam sebelum turnamen dimulai, saya terkena disentri dan pelatih pun memainkan saya hanya pada babak pertama."
Rivera sendiri terkesan masih belum menerima kenyataan hanya bermain enam menit di final.
"Ada tudingan miring yang ditujukan kepada saya, tapi saya tak pernah tahu siapa," ujarnya.
"Kami mencapai final dan itu merupakan bukti sepakbola bisa dilakukan tanpa peran pelatih. Ada manuver yang menyebabkan saya tidak bermain di final."
Ketika Milan kembali berhadapan dengan Inter di lapangan San Siro akhir pekan ini, kenanglah juga rivalitas "Il Baffo" Mazzola dan "Golden Boy ol'Abatino" Rivera empat dasawarsa yang lalu...
Trio Belanda vs Troi Jerman
Ketika Milan memiliki trio Belanda, Ruud Gullit-Marco van Basten-Frank Rijkaard, Inter langsung menandingi dengan trio Jerman: Andreas Brehme-Lothar Matthaeus-Juergen Klinsmann. Ini jelas indikasi persaingan karena di era 1980 dan 1990-an, Belanda-Jerman adalah dua musuh bebuyutan.
Ketika Belanda bertemu Jerman di Piala Dunia, pertandingan itu dimainkan di tanah kandang Inter dan Milan yaitu San Siro, dan bagi banyak orang partai itu rasanya seperti versi tim nasional dari derby Milan karena saat itu piala dunia 1990 d selengarakan di Italia.
Permainan berlangsung sedkit kasar dan yang berakhir dengan kekalahan untuk Belanda.Jerman memenangkan pertandingan 2-1 dengan dua pemain Inter Klinsman dan Brehme mencetak kemenangan.
Salah satu yg menarik adalah ketika Rijkaard meludahi Rudi Völler .
Setelah masa itu, milan adalah penguasa kota milan sampai pada tahun 2006 Milan dan Juvewntus bersama beberapa klub lain terkena sangsi akibat skandal calciopoli. Kini Milaan perlahan bangkit dan menjadi capolista selama hampir satu musim dan Inter yang terseok - seok pada awal musim berhasil memangkas selisih menjadi 2 poin untuk mempertahankan gelarnya.
Data dan Fakta :
1995-1996
Inter 1–1 Milan Serie A Paganin 19' Savicevic 46'
Milan 0–1Inter Serie A Branca 5'
1996-1997
Milan 1–1 Inter Serie A Baggio 4' Djorkaeff 12'
Inter 3–1 Milan Serie A Djorkaeff 32' (pen), Zamorano 43', Ganz 58' Baggio 88'
1997-1998
Inte r2–2 Milan Serie A Simeone 13', Ronaldo 68' (pen) Weah 29', Cruz 80' (pen)
Milan 0–3 Inter Serie A Simeone 42',87', Ronaldo 77'
Milan 5-0 Inter Coppa Italia Albertini 28' (pen), Ganz 33', Savicevic 43', Colonnese 46' (o.g.), Nilsen 60'
Inter1–0Milan Coppa Italia Branca 31'
1998-1999
Milan2–2Inter Serie A Weah 13', Albertini 60' (pen) Ronaldo 7', Moriero 48'
Inter 2–2 Milan Serie A N'Gotty 7' (o.g.), Ganz 90' (pen) Leonardo 14', 52'
1999-2000
Inter 1–2 Milan Serie A Ronaldo 20' (pen) Shevchenko 28', Weah 89'
Milan 1–2 Inter Serie A Shevchenko 90' (pen) Zamorano 43', Di Biagio 63'
Milan2–3 Inter Coppa Italia Shevchenko 44', 55' Vieri 28', Mutu 53, Seedorf 68'
Inter 1–1 Milan Coppa Italia Baggio 37' Shevchenko 35'
2000-2001
Milan 2–2 Inter Serie A Boban 65', Bierhoff 84' Şükür 11', Di Biagio 72'
Inter 0–6 Milan Serie A - Comandini 3', 19', Giunti 53', Shevchenko 67', 78, Serginho 81'
2002-2001
Inter 2–4 Milan... Serie A Ventola 13' Kallon 90' Shevchenko 59', 77', Contra 61', Inzaghi 66'
Milan 0–1Inter.. Serie A - Vieri 78'
2001-2002
Milan 1–0 Inter Serie A Serginho 12' -
Inter 0–1Milan Serie A - Inzaghi 11' (pen.)
2002-2003
Milan 0–0 Inter UEFA CL - -
Inter 1–1Milan UEFA CL Martins 84' Shevchenko 45'
2003-2004
Inter 1–3 Milan Serie A Martins 79' Inzaghi 39', Kaká 46', Shevchenko 77'
Milan 3–2 Inter Serie A Tomasson 56', Kaká 57', Seedorf 58' Stanković 15', Zanetti 40'
2004-2005
Milan 0–0 Inter Serie A - -
Inter 0–1Milan Serie A Kakà 77', -
2004-2005 UCL
Milan 2–0 Inter UEFA CL Stam 46', Shevchenko 76' -
Inter 0–1 Milan UEFA CL ,Shevchenko 30'
2005-2006
Inter 3–2 Milan Serie A Adriano 24', 93', Martins 61' Shevchenko 39', Stam 85'
Milan 1–0 Inter Serie A Kaladze 71', -
2006-2007
Milan 3–4 Inter Serie A Seedorf 53', Gilardino 79', Kakà 94' Crespo 17', Stanković 22', Ibrahimovic 50', Materazzi 72'
Inter 2–1Milan Serie A Cruz 56', Ibrahimovic 76' Ronaldo 40'
2007-2008
Inter 2–1 Milan Serie A Cruz 36', Cambiasso 64' Pirlo 18'
Milan 2–1 Inter Serie A Inzaghi 53', Kakà 58' Cruz 78'
2008-2009
Milan 1–0 Inter Serie A Ronaldinho 36' -
Inter 2 -1Milan Serie A Adriano 29', Stanković 43' Pato 72'
2009-2010
Milan 0–4 Inter Serie A - Motta 29', Milito 36' (pen), Maicon 46', Stanković 70'
Inter 2–0 Milan Serie A Milito 10', Pandev 67' -
2010-2011
Milan 2-0 Inter SerieA
Inter 0-3 Milan Serie A
Milan 2-1 Inter super copa
Minggu, 11 Desember 2011
FAKTA INTER TIDAK PERNAH TERDEGRADASI
I. Campionato Federale/Prima Categoria & Seconda Categoria/Promozione FIF/FIGC
Sejak kompetisi sepakbola di Italia bergulir pd tahun 1898, klub2 sepakbola Italia baru bermunculan satu demi satu dan menyebabkan ledakan jumlah klub sepakbola yg berkompetisi di Campionato Federale. Untuk mengatasi masalah ini Federasi Sepakbola Italia yg ada saat itu (FIF yg kemudian berganti nama menjadi FIGC tahun 1909) membuat sebuah kompetisi baru bernama Seconda Categoria (sebelum masa Serie-B) di tahun 1904 sebagai ajang untuk menyaring kompetensi klub2 baru ini sebelum dipromosikan ke Campionato Federale baru yg sejak saat itu diberi nama anyar: Prima Categoria.
Adalah Pro Vercelli klub pertama dari Seconda Categoria yg berhasil promosi ke Prima Categoria di tahun 1907 dan bahkan langsung berhasil menjuarai kompetisi tertinggi sepakbola Italia tersebut di tahun 1908 ato hanya 1 tahun setelah promosi. Pd 1912 FIGC menetapkan peraturan baru ttg promosi yg akhirnya merubah nama Seconda Categoria menjadi Promozione.
II. FIGC & CCI
Tapi kemudian masalah barupun muncul, meskipun jumlah klub baru yg bisa masuk Prima Categoria berhasil dibatasi setiap musimnya namun jumlah klub yg berkompetisi di sana terus bertambah karena tidak adanya klub yg keluar (ato degradasi) dari situ. Parahnya adalah karena saat itu setiap klub yg berkompetisi di Prima Categoria memiliki representatif di FIGC (jd seperti Parlemen) maka banyak klub2 kecil yg jumlahnya mayoritas menolak usulan klub2 elit Italia untuk memberlakukan sistem degradasi untuk mengurangi jumlah klub Prima Categoria sekaligus membuat kompetisi berjalan lebih kompetitif.
Puncaknya adalah pd saat pelatih legendaris Italia, Vittorio Pozzo, mengajukan petisi kepada FIGC pd 1921 yg popular dengan sebutan Progetto Pozzo agar dirancang sebuah sistem degradasi namun setelah voting yg berjalan alot ternyata petisi tersebut harus kandas karena representatif klub2 kecil yg telah disebutkan di atas tidak ingin terlempar dari Prima Categoria. Akhirnya di tahun tersebut para klub elit memutuskan hengkang dari FIGC dan membentuk CCI dan mengadakan kompetisi sendiri yg mereka namakan Prima Divisione dan kasta keduanya yg dinamakan Seconda Divisione. Sementara di sisi lain FIGC tetep ngotot menyelenggarakan Prima Categoria meski tanpa dihadiri klub2 elit.
III. Prima Divisione 1921-1922 (CCI)
Salah satu regulasi yg disetujui dalam penyelenggaraan pertama Prima Divisione musim 1921-1922 oleh CCI adalah diberlakukannya regulasi sistem degradasi, sementara sistem kompetisi akan dibagi dalam 2 turnamen; Lega Nord dan Lega Sud. Juara masing2 turnamen akan diadu dalam Final untuk menentukan juara Prima Divisione 1921-1922.
Lega Nord yg diikuti 24 klub akan dipecah menjadi 2 Grup, kedua Juara Grup akan diadu dalam Final Lega Nord dan pemenangnya akan menjadi Juara Lega Nord Prima Divisione 1921-1922 sementara kedua Juru Kunci juga akan diadu dalam play-off degradasi (spareggi) dan yg kalah akan terdegradasi untuk kemudian digantikan Juara Lega Nord Seconda Divisione 1921-1922.
Lega Sud diikuti oleh 32 klub yg terbagi dalam 5 Regional berbeda (Lazio, Marche, Campania, Puglia dan Sicilia) karena kemampuan ekonomi klub2 peserta2 Lega Sud tidak memungkinkan untuk diadakannya turnamen panjang seperti yg diterapkan di Lega Nord, masing2 Juara Regional akan diadu dalam play-off dan pemenangnya menjadi Juara Lega Sud sementara regulasi degradasi Lega Sud memberlakukan sistem berbeda untuk masing2 Regional: Lazio (9 klub berformat liga, 3 klub terbawah degradasi langsung), Marche (6 klub yg dibagi dalam 2 grup, 5 klub terdegradasi langsung), Campania (7 klub berformat liga, hanya 1 klub terbawah yg degradasi langsung), Puglia (4 klub berformat liga, hanya 1 klub terbawah yg degradasi langsung), Sicilia (6 klub berformat liga, hanya 1 klub terbawah yg degradasi langsung).
Klasemen Akhir Prima Divisione CCI 1921-1922
Lega Nord
Grup A:
1. Pro Vercelli 36
2. Novara 32
3. Bologna 27
4. Mantova 24
5. Andrea Doria 23
6. Juventus 22
7. Hellas Verona 22
8. US Milanese 20
9. AC Milan 18
10. US Livorno 17
11. Spezia 16
12. Vicenza 7
Grup B:
1. Genoa 37
2. Alessandria 28
3. Pisa 27
4. Modena 26
5. Padova 23
6. Casale 20
7. Legnano 20
8. Savona 20
9. Torino 20
10. Venezia 17
11. Brescia 15
12. Inter Milan 11
i) Pro Vercelli dan Genoa maju ke Final Lega Nord
ii) Vicenza dan Inter Milan bertemu di Play-off degradasi Lega Nord
Lega Sud
Campania:
1. Puteolana 24
2. Savoia 18
3. Inter Napoli 12
4. Naples FC 11
5. Ilva Bagnolese 10
6. Juve Stabia 9
7. Salernitana 0
Sicilia:
1. Palermo 20
2. Libertas Palermo 12
3. Messinese 10
4. Umberto Messina 10
5. SC Messina 8
6. Vigor Trapani 0
Marche:
Grup Macerata:
1. Helvia Recina 8
2. Macerata FC 4
3. Virtus Macerata 0
Grup Ancona:
1. Anconitana 8
2. Virtus Senigallia 4
3. Folgore 0
Grup Finale Marche:
1. Anconitana 12
2. Vigor Senigallia 7
3. Helvia Recina 4
4. Macerata FC 1
Lazio:
1. Fortitudo Roma 28
2. Alba Roma 22
3. Juventus Audax 21
4. Lazio 21
5. US Romana 15
6. Roman FC 12
7. Audace Roma 12
8. Pro Roma 8
9. Tivoli 4
Puglia:
1. Audace Taranto 9
2. Pro Italia Taranto 8
3. Liberty Bari 6
4. Veloce Taranto 1
i) Puteolana, Palermo, Anconitana, Fortitudo Roma dan Audace Taranto maju ke Final Lega Sud
ii) Salernitana, Vigor Trapani, Virtus Macerata, Folgore, Audace Roma, Pro Roma, Tivoli dan Veloce Taranto terdegradasi langsung ke Seconda Divisione Lega Sud
Finale Lega Nord
Pro Vercelli vs Genoa 0-0 2-1 (Agg. 2-1)
Finale Lega Sud
1st Round:
Puteolana vs Anconitana 3-0
Audace Taranto vs Palermo 1-0
Semifinal:
Fortitudo Roma vs Audace Taranto 4-1
Final:
Fortitudo Roma vs Puteolana 2-0
Finale Prima Divisione CCI 1921-1922
Fortitudo Roma vs Pro Vercelli 0-3 5-2 (Agg.8-2)
* Revisi pasca Comprommeso Colombo:
Lega Nord;
1) Play-off degradasi Vicenza vs Inter Milan dibatalkan
2) US Livorno, Spezia, Venezia dan Brescia diikutsertakan dalam play-off degradasi
Lega Sud;
1) Grup Regionale Marche ditiadakan, semua klub di dalamnya terdegradasi ke Seconda Divisione Lega Sud kecuali Anconitana sebagai Juara Grup
IV. Re-Integrasi CCI ke FIGC 1922
Pd 22 Juni 1922 atau hanya setahun setelah ‘pembelotan’ CCI, pihak FIGC dan CCI menyetujui petisi yg diajukan Emilio Colombo (Direktur harian olahraga terkemuka La Gazzetta Dello Sport saat itu). Petisi ini yg dikenal dengan sebutan Comprommeso Colombo yg berisi formula penyelenggaraan sebuah kompetisi baru yg diikuti klub2 hasil integrasi kompetisi Prima Categoria dan Promozione FIGC dengan Prima Divisione dan Seconda Divisione CCI, pada akhirnya baik FIGC dan CCI menyepakati Comprommeso Colombo dan setuju untuk bersatu kembali di bawah nama FIGC.
Dengan disetujui kesepakatan ini lahirlah Prima Divisione baru yg menggantikan Prima Categoria FIGC dan Prima Divisione CCI, serta lahir juga Seconda Divisione baru yg menggantikan Promozione FIGC dan Seconda Divisione CCI. Baik Prima Divisione dan Seconda Divisione dibagi dalam 2 Turnamen, Lega Nord akan dijalankan oleh FIGC sementara Lega Sud dijalankan CCI.
V. Petisi Emilio Colombo (Direktur La Gazzetta Dello Sport) 1922
Untuk memperjelas apa saja isi dari Petisi Colombo atau yg dikenal dengan Comprommeso Colombo, maka di sini saya akan menjabarkan poin2 Comprommeso Colombo sesuai apa yg saya ketahui.
Hal-hal yg disepakati:
1) Reunifikasi kedua Asosiasi (FIGC dan CCI) dan reintegrasi kompetisi2 di bawah kedua Asosiasi tersebut.
2) Kompetisi utama musim 1922-1923 yg kini dinamai Prima Divisione di bawah FIGC (Lega Nord) akan diikuti oleh 36 klub dari 2 kompetisi musim sebelumnya Prima Categoria FIGC dan Lega Nord Prima Divisione CCI serta dibagi dalam 3 Grup – setiap grup diisi masing2 12 klub.
3) Kompetisi utama baru musim 1922-1923 akan diselenggarakan terpisah antara Lega Nord di bawah FIGC dan Lega Sud di bawah CCI.
4) Pada kompetisi Lega Sud di bawah CCI, seluruh proses teknis kompetisi akan diserahkan sepenuhnya kepada Asosiasi yg berwenang (CCI).
5) Kompetisi sepakbola Italia mulai musim kompetisi 1922-1923 akan terdiri dari 4 level/kasta yaitu Prima Divisione danSeconda Divisione yg dijalankan bersama oleh FIGC (Lega Nord) dan CCI (Lega Sud) sertaTerza Divisione dan Quarta Divisione yg dijalankan oleh Comitati Regionali/Komite Regional (di bawah CCI).
6) Mulai musim kompetisi 1923-1924, Prima Divisione Lega Nord FIGC hanya akan diikuti 24 klub.
7) FIGC mengakui Pro Vercelli yg memenangkan Prima Divisione 1921-1922 CCI sebagai Juara Italia (scudetto) yg sah. (Akhirnya hal ini menjadikan adanya 2 Juara pd musim 1921-1922: Novese sebagai juara Prima Categoria dan Pro Vercelli sebagai juara Prima Divisione.
Pengorganisasian 36 klub peserta Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923:
1) 12 klub yg berasal dari Prima Divisione Lega Nord 1921-1922 CCI, terdiri dari masing2 6 klub yg menempati posisi teratas Grup A dan Grup B. Mereka adalah: Pro Vercelli, Novara, Bologna, Mantova, Andrea Doria, Juventus, Genoa, Alessandria, Pisa, Modena, Padova, Casale.
2) 12 klub yg berasal dari Prima Categoria 1921-1922 FIGC, terdiri dari masing2 2 klub yg menempati posisi teratas keenam Grup Regional. Mereka adalah: Sampierdarenese, Speranza Savona, Novese, US Torinese, Esperia Como, Cremonese, Petrarca Padova, Udinese, SPAL, Virtus Bolognese, Pro Livorno, Lucchese.
3) 6 klub yg berasal dari Prima Divisione Lega Nord 1921-1922 CCI, terdiri dari masing2 3 klub yg menempati posisi ke-7 hingga ke-9 dari Grup A dan Grup B. Mereka adalah: Hellas Verona, US Milanese, AC Milan, Legnano, Savona, Torino.
4) 6 klub yg berasal dari hasil play-off degradasi (spareggi), peserta spareggi terdiri dari: 3 klub yg menempati posisi terbawah Grup A dan Grup B Prima Divisione Lega Nord 1921-1922 CCI (total 6 klub), masing2 2 klub yg menempati posisi ke-3 hingga ke-4 dari keenam Grup Regional Prima Categoria 1921-1922 FIGC (total 12 klub), 2 klub yg menempati posisi teratas Putaran Final Seconda Divisione Lega Nord 1921-1922 CCI (total 2 klub).
Pengorganisasian spareggi Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923:
1) Putaran Kualifikasi spareggi FIGC diikuti oleh seluruh wakil dari Prima Categoria 1921-1922 FIGC (12 klub) yg akan diundi untuk bertanding satu sama lain dan akan menghasilkan 6 klub yg maju ke Putaran Utama spareggi. Mereka adalah: Rivarolese, Valenzana, Pastore, Viareggio, Como, Piacenza, Bentegodi Verona, Sestrese, Parma, Treviso, Libertas Firenze, Enotria Goliardo. Putaran Kualifikasi CCI diikuti 2 klub Juru Kunci Grup A dan Grup B Prima Divisione Lega Nord 1921-1922 CCI melawan 2 klub wakil Seconda Divisione Lega Nord 1921-1922 CCI dan akan menghasilkan 2 klub yg maju ke Putaran Utama spareggi. Mereka adalah: Vicenza, Inter Milan (Prima Divisione), Derthona, SC Italia Milano (Seconda Divisione). Format pertandingan berlangsung 1 kali di tempat netral.
2) Putaran Utama spareggi diikuti 8 klub dari Putaran Kualifikasi spareggi dan 4 klub tersisa wakil Prima Divisione Lega Nord 1921-1922 CCI yg akan diundi untuk bertanding satu sama lain dan akan menghasilkan 6 klub yg berhak mengikuti Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923. Mereka adalah: Venezia, Rivarolese, Pastore, Spezia, US Livorno, Piacenza, Sestrese, Brescia, Derthona, Treviso, Inter Milan, Libertas Firenze. Format pertandingan berlangsung 2 kali home dan away, apabila dalam 2 pertandingan tidak berhasil menemukan pemenang maka diadakan 1 pertandingan penentu di tempat netral.
3) Putaran Tambahan spareggi diikuti 4 klub yg tersingkir dari Putaran Utama spareggi (2 klub lagi tidak diikusertakan, Libertas Firenze tidak memiliki jumlah skuad yg cukup dan Piacenza mengundurkan diri) yg dibagi dalam 2 putaran, semifinal dan final. Mereka adalah: Sestrese, Venezia, Spezia, Treviso. Semua putaran berformat 1 kali pertandingan di tempat netral.
Setelah spareggi berhasil menghasilkan 6 klub yg berhak mengikuti Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923, ternyata masih ada 1 jatah tersisa sebagai akibat dari bangkrutnya Pro Livorno yg sebelumnya sudah masuk ke dalam 12 klub teratas Prima Categoria 1921-1922 FIGC. Karena alasan inilah Comprommeso Colombo memperpanjang masa spareggi untuk menghasilkan 1 klub lagi yg mengikuti Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923.
Hasil lengkap spareggi Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923:
Putaran Kualifikasi
Dibagi dalam 2 zona; zona FIGC dan zona CCI. Pertandingan berlangsung 1 kali dan dilaksanakan di tempat netral, kemudian diulang di lain waktu apabila hasilnya imbang. Pemenang melaju ke putaran utama.
FIGC
Rivarolese – Valenzana 2-0
Pastore – Viareggio 4-0
Como – Piacenza 1-2
Bentegodi Verona – Sestrese 2-7
Parma – Treviso 1-2
Libertas Firenze – Enotria Goliardo 2-1
CCI
SC Italia Milan – Inter Milan 0-2 (SC Italia Milano mengundurkan diri)
Derthona – Vicenza 4-0
Putaran Utama
Zona FIGC dan CCI digabung. Pertandingan berlangsung dalam 2 leg (home dan away), sementara apabila hasilnya imbang akan ditentukan di pertandingan tambahan yg dilaksanakan di tempat netral hingga menemukan pemenangnya. Pemenang berhak lolos ke Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923. Klub yg disebut pertama adalah tuan rumah leg I, klub yg disebut serikutnya adalah tuan rumah leg II.
Rivarolese – Venezia 0-0 2-1
Spezia – Pastore 1-1 1-2 Piacenza – US Livorno 2-4 (diulang karena masalah teknis, hasil sebelumnya 1-4) 0-2 (Piacenza mengundurkan diri)
Brescia – Sestrese 2-0 0-5 (Penentuan 2-0)
Treviso – Derthona 0-1 0-1
Inter Milan – Libertas Firenze 3-0 1-1
Putaran Tambahan
Dibagi dalam 2 putaran; Semifinal dan Final. Setiap putaran berlangsung dalam 1 kali pertandingan dan dilaksanakan di tempat netral, kemudian diulang di lain waktu apabila hasilnya imbang. Pemenang putaran Final berhak lolos ke Prima Divisione Lega Nord FIGC 1922-1923 menggantikan Pro Livorno yg bangkrut.
Semifinal
Sestrese – Venezia 1-0
Spezia – Treviso 3-0
Final
Spezia – Sestrese 2-1
VI. Kontroversi Petisi Emilio Colombo & Perkembangannya
Dengan sekilas kita bisa melihat bahwa Comprommeso Colombo mengabaikan Lega Sud dibandingkan Lega Nord, indikasinya jelas yaitu bahwa Comprommeso Colombo sama sekali tidak mengatur pengorganisasian Lega Sud dan sepenuhnya fokus pd pengorganisasian Lega Nord. Hal ini jugalah yg pada awalnya menjadi titik utama kontroversi Comprommeso Colombo pada tahun2 awal kelanjutan Prima Divisione. Alasan Colombo memprioritaskan Lega Nord sebenarnya cukup bisa dipahami mengingat pada saat itu klub2 yg berasal dari selatan tidak memiliki prestise dan kemampuan finansial memadai sehingga hanya dianggap jauh lebih inferior, namun tetap saja tidak bisa dibenarkan karena jelas ada ketidakadilan dan diskriminasi dalam hal ini
Setelah era transformasi dari Prima Divisione ke Serie-A pd awal tahun 30an dan terutama pasca era Perang Dunia II pd akhir tahun 40an ternyata kontroversi seputar Comprommeso Colombo masih berputar, namun fokus kontroversi bergeser dari yg awalnya ttg diskriminasi terhadap klub2 Selatan (Lega Sud) menjadi ttg diskriminasi terhadap klub2 Prima Categoria dan Promozione 1921-1922 FIGC. Indikasinya utamanya adalah seputar penetapan 36 klub peserta Lega Nord Prima Divisione 1922-1923 dimana klub2 dari Prima Categoria 1921-1922 FIGC diberi jatah yg lebih sedikit dibandingkan klub2 dari Prima Divisione 1921-1922 CCI, bahkan pd proses spareggi seluruh wakil Prima Categoria 1921-1922 FIGC langsung diikutsertakan sejak Putaran Kualifikasi sementara hanya 2 dari total 6 klub Prima Divisione 1921-1922 CCI peserta spareggi yg mengikuti Putaran Kualifikasi. Indikasi lain adalah diturunkannya kasta Prima Categoria dan Promozione 1921-1922 FIGC setelah Comprommeso Colombo mentransformasi kedua kompetisi tersebut menjadi Terza Divisione dan Quarta Divisione.
Pergeseran kontroversi Comprommeso Colombo paling anyar terjadi pasca skandal Calciopoli 2006 yg memaksa Juventus terdegradasi dan meninggalkan Inter Milan sebagai satu2nya klub Italia sepanjang sejarah yg tidak pernah terdegradasi dari kasta pertama kompetisi sepakbola Italia. Sebagian pihak yg merasa tidak bisa menerima fakta ini bahkan kemudian memfitnah Inter Milan seharusnya terdegradasi pd tahun 1922 karena menempati posisi Juru Kunci Lega Nord Prima Divisione Grup B 1921-1922 CCI dengan menggunakan Comprommeso Colombo sebagai alasan Inter Milan terlepas dari degradasi. Hal terakhir inilah, yg setelah saya jabarkan panjang lebar di atas, akan saya luruskan kembali kebenarannya
Petisi Colombo versi Pasca Calciopoli 2006: Fitnah Terhadap Inter Milan & Fakta Sebenarnya
1. Fitnah: Inter Milan seharusnya terdegradasi setelah mengakhiri Prima Divisione 1921-1922 CCI sebagai Juru Kunci Lega Nord Grup B. Fakta: Sejak awal Regulasi Prima Divisione 1921-1922 CCI tidak menyatakan Juru Kunci kedua Grup Lega Nord otomatis terdegradasi langsung. Inter Milan yg berakhir sebagai Juru Kunci Lega Nord Grup B seharusnya menjalani play-off degradasi (spareggi) melawan Vicenza selaku Juru Kunci Lega Nord Grup A, pemenangnya akan bertahan di Prima Divisione dan yg kalah terdegradasi ke Seconda Divisione. Hanya saja Spareggi antara Inter Milan vs Vicenza tidak pernah terjadi karena didahului oleh disepakatinya Comprommeso Colombo sebelum jadwal pertandingan tersebut
2. Fitnah: Comprommeso Colombo diajukan oleh Emilio Colombo dan manajemen Inter Milan. Fakta:Manajemen Inter Milan tidak terlibat perancangan Comprommeso Colombo karena petisi tersebut awalnya disusun Emilio Colombo bersama Presiden FIGC, Luigi Bozino, dan Presiden CCI, Giovanni Lombardi pada sebuah pertemuan mediasi 7 Desember 1921 di Milan. Fitnah ini muncul hanya karena tempat diselenggarakannya mediasi berdekatan dengan vila milik Enrico Olivetti, Presiden Inter Milan dari 1923-1926 (baru dilantik sebagai Presiden Inter Milan hampir 2 tahun setelah proses mediasi awal yg dipermasalahkan!)
3. Fitnah: Comprommeso Colombo berisi permohonan agar Inter Milan tidak didegradasi dan menjadikan Venezia sebagai pengganti Inter Milan untuk degradasi. Fakta: Silakan dibaca lagi poin2 Comprommeso Colombo di atas dan tolong tunjukan bagian yg menyatakan Venezia menggantikan Inter Milan untuk terdegradasi. Inter Milan lolos dari degradasi berdasarkan regulasi yg disusun dalam Comprommeso Colombo setelah menjalani spareggi yg sah, sebaliknya Venezia justru terdegradasi juga berdasarkan regulasi yg disusun dalam Comprommeso Colombo setelah menjalani spareggi yg sah.
Minggu, 27 November 2011
Sabtu, 26 November 2011
LA GRANDE INTER
Ketika Inter Milan mengakhiri penantian 45 tahun untuk mengangkat Piala Eropa di Santiago Bernabeu pada Mei 2010, kemenangan mereka 2-0 atas Bayern Munich adalah puncak dari lari yang telah fundamental didasarkan pada organisasi. José Mourinho, yang terkenal bagi manusia manajemen-nya dan taktik pragmatis, telah membentuk tim dalam gambar-Nya sendiri: ditentukan, kejam dan mudah beradaptasi
Kemenangan 1-0 di Stamford Bridge untuk mengalahkan mantan klubnya Chelsea di enam belas terakhir, yang benar-benar layak setelah kinerja luhur dan gol kemenangan, itu merupakan tanda awal dari apa yang akan terjadi. Dalam menghilangkan pemegang Barcelona dengan tampilan defensif bersejarah di Nou Camp di leg kedua semi final - selama lawan-lawan mereka telah menguasai 86% - Saya Nerazurri telah digunakan taktik yang dapat ditelusuri kembali ke lama sebelum Mourinho.
Angelo Moratti, seorang miliarder yang membuat kekayaannya melalui minyak, menjadi presiden Inter Milan pada 1955 dan bersepeda melalui berbagai pelatih - termasuk legenda klub Giuseppe Meazza untuk dua mantra yang terpisah - dalam upaya untuk memberikan Scudetto lain. Lima tahun setelah kedatangannya, dia akhirnya menemukan pria yang tepat. Helenio Herrera menyerahkan kendali pada tahun 1960 dan melanjutkan untuk memimpin Inter meraih tiga gelar Serie A, dua Piala Eropa (dan lain akhir) serta dua Piala Intercontinental. Timnya, efisien dibor dalam gaya catenaccio, menjadi dikenal sebagai Grande Inter dan Il Mago Herrera (Wizard).
Rincian waktu Herrera dan tempat lahir terselubung dalam misteri - diterima bahwa ia dilahirkan di sebuah pulau di suatu tempat di Rio de la Plata, di perbatasan Argentina dan Uruguay. Ketidakpastian tetap sekitar tanggal lahirnya, namun. Tidak hanya itu disarankan bahwa ayah Herrera sengaja memasukkan dokumen kelahiran yang salah, tapi kemudian istrinya juga mengklaim dirinya berubah Herrera jelas tahun kelahirannya 1910-1916. Anak dari orang tua Spanyol, keluarganya pindah ke Maroko ketika ia berusia empat dan ia menjadi warga negara Prancis
Seperti Mourinho, Herrera tidak mencapai sukses sebagai pemain. Seorang bek profesional, dia berbalik keluar untuk berbagai klub Prancis selama tahun 1930 dan 1940-an, terutama dengan Stade Francais, tapi piala berhasil menghindarinya. Setelah pensiun pada tahun 1945, Herrera segera memulai karir pelatih di Prancis, mengambil alih dan Stade Francais Puteaux. Pada tahun 1960, Herrera telah membangun reputasi luar biasa dengan karyanya di enam klub di Spanyol. Il Mago telah mantra di Real Valladolid, Malaga, Deportivo La Coruña dan Sevilla, tetapi berada di Atletico Madrid dan kemudian Barcelona di mana nya gaya manajemen lincah berbuah terbaiknya.
Herrera membawa Atleti untuk back-to-back kejuaraan Spanyol pada awal tahun 1950-an sebelum mengulangi feat hampir satu dekade kemudian di Catalonia. Barcelona juga memenangkan Piala Spanyol dan Inter-Cities Fairs Cup (pendahulu Piala UEFA) di bawah kepemimpinannya. Herrera meninggalkan Camp Nou setelah terus meludah dengan pemain bintang tim Laszlo Kubala, sebuah peristiwa yang meramalkan perawatan dari pemain tertentu di Inter, tapi kesan abadi telah ditinggalkan baik di Spanyol dan seluruh Eropa.
Sebuah disiplin dengan ide-ide trailblazing diet, motivasi dan taktik, Herrera benar-benar dari waktu ke depan. Dia benar-benar dikelola apa yang pemainnya makan dan merupakan salah satu pelatih pertama untuk mengambil skuadnya jauh sebelum pertandingan, membatasi kontak dengan keluarga dan teman-teman selama membangun-up. Seorang Buddhis yang mulai setiap hari dengan sesi yoga, Herrera diharapkan komitmen yang sama dari pemain di semua aspek persiapan. Sebagai alat motivasi, ia akan menanamkan mantra ke dalam jiwa tim dan menulis slogan-slogan di dinding ruang ganti.
Fans juga memainkan peran penting dalam keberhasilan Inter di bawah Herrera, seorang manajer yang dengan cepat menyadari pentingnya kerumunan. Klub didanai bepergian kelompok penggemar untuk memastikan dukungan gencar di laga tandang di Italia dan Eropa, sementara Herrera membantu untuk menciptakan asosiasi di seluruh negeri. Dalam banyak hal, dukungan Inter waktu bisa digambarkan sebagai ultras pertama. Pendekatan teliti dan ide-ide visioner, dikombinasikan dengan tim dari individu-individu berbakat, tak lama datang bersama-sama untuk menghasilkan periode terbaik dalam sejarah kesuksesan Inter.
Dalam dua musim pertamanya bertugas, Inter bermain gaya sepakbola luas dan gagal untuk memenangkan Scudetto. Dengan 1962-1963, Herrera telah mengadopsi formasi lebih defensif, mengasah 5-3-2 sebagai Inter memenangkan kejuaraan. Meskipun Herrera mengklaim telah menemukan catenaccio, timnya tidak bermain versi ultra-defensif ideologi. Itu tidak menghentikan dia, lagi bergema Mourinho, bermain dengan citra dalam upaya pragmatis untuk membelokkan tekanan dari timnya. Perilaku sinis mereka dan tekad belaka untuk menang mungkin telah dilengkapi template taktik catenaccio, tetapi mereka telah kehalusan lebih. Taca la bal - serangan bola - adalah moto dan gaya Herrera timnya sering bisa mendahului Total Football Belanda, yang akan dimuliakan satu dekade kemudian di Piala Dunia 1974.
Berdasarkan rock-solid kembali lima - biasanya Armando Picchi, Tarcisio Burgnich, Aristide Guarneri, Giacinto Facchetti dan Gianfranco Bedin - Grande Inter pakaian kontra-menyerang hipnotis. Facchetti, khususnya, menyediakan lebar reguler dari full-back, sementara Jair dan Sandro Mazzola adalah pemain bakat ini yang bisa memberikan gol. Picchi, juga, merasa nyaman membawa bola dari belakang meskipun penyapu ditunjuk. Herrera bahkan menemukan ruang di sisi tubuhnya, meskipun terkenal atas perintah dari Moratti, untuk pemain mewah - Mario Corso. Pemain sayap dibuat lebih dari 400 penampilan bagi Inter tapi akhirnya menjadi terkenal karena dirasakan kurangnya upaya
Memenangkan gelar pada 1963 berarti kualifikasi Piala Eropa Inter musim berikutnya, yang masih dalam masa pertumbuhan relatif, tetapi memiliki reputasi yang berkembang setelah eksploitasi awal Real Madrid dan Benfica. Rival sekotanya AC Milan telah memenangkan kompetisi tahun sebelumnya dan sesuai diikuti Inter pada upaya pertama. Inter hanya kebobolan dua gol dalam enam pertandingan pembukaan mereka, merobohkan Everton, Monaco dan Partizan, untuk mendirikan semi-final dengan Borussia Dortmund. Hasil imbang 2-2 leg pertama di Jerman memberi Italia keunggulan, dan kemenangan telah selesai dengan kemenangan 2-0 kembali di Milan. Sekitar 30.000 Interisti perjalanan ke Wina untuk, sisi akhir Herrera mengalahkan lima kali juara Madrid, yang timnya adalah penuaan dengan 1964, 3-1 untuk mengangkat trofi.
Musim berikutnya, 1964/65, sangat banyak Inter dan puncaknya Herrera. Inter memenangkan kedua Seri A dan Piala Eropa untuk kedua kalinya di bawah Argentina, mencapai ganda yang luar biasa. Inter lagi menunjukkan nilai mereka di Eropa, menolak Dinamo Bucharest, Rangers dan - kontroversial - Liverpool untuk mencapai final kedua berturut-turut. Dua kali juara Benfica, yang dipimpin oleh Eusebio angkuh, para penentang mereka dan tujuan Jair soliter terbukti cukup untuk memenangkan piala didambakan untuk musim kedua berjalan. Scudetto lain diikuti pada tahun 1966 sebelum penampilan ketiga Piala Eropa akhir tahun kemudian. Meskipun mengambil memimpin dini melalui Mazzola, Inter dipukuli oleh 'Singa Lisbon Celtic di salah satu final paling terkenal dalam sejarah turnamen itu.
Inter tidak akan pernah mencapai ketinggian yang di bawah Herrera lagi, dan memang di bawah setiap manajer untuk waktu yang lama. Dia meninggalkan klub pada 1968 dan meskipun dia kembali untuk kampanye lain di pertengahan 1970-an, dominasi dari Grande Inter berakhir. Tuduhan akan muncul ke permukaan di tahun kemudian berkaitan dengan doping dan suap di klub, tetapi mereka tidak banyak untuk menodai besarnya semata prestasi Herrera. Yang pertama dari manajer modern jenis, ia merevolusi klub dan dampaknya, begitu banyak yang dapat dilihat pada Mourinho, masih terasa hari ini.
by Chris Shaw
Kemenangan 1-0 di Stamford Bridge untuk mengalahkan mantan klubnya Chelsea di enam belas terakhir, yang benar-benar layak setelah kinerja luhur dan gol kemenangan, itu merupakan tanda awal dari apa yang akan terjadi. Dalam menghilangkan pemegang Barcelona dengan tampilan defensif bersejarah di Nou Camp di leg kedua semi final - selama lawan-lawan mereka telah menguasai 86% - Saya Nerazurri telah digunakan taktik yang dapat ditelusuri kembali ke lama sebelum Mourinho.
Angelo Moratti, seorang miliarder yang membuat kekayaannya melalui minyak, menjadi presiden Inter Milan pada 1955 dan bersepeda melalui berbagai pelatih - termasuk legenda klub Giuseppe Meazza untuk dua mantra yang terpisah - dalam upaya untuk memberikan Scudetto lain. Lima tahun setelah kedatangannya, dia akhirnya menemukan pria yang tepat. Helenio Herrera menyerahkan kendali pada tahun 1960 dan melanjutkan untuk memimpin Inter meraih tiga gelar Serie A, dua Piala Eropa (dan lain akhir) serta dua Piala Intercontinental. Timnya, efisien dibor dalam gaya catenaccio, menjadi dikenal sebagai Grande Inter dan Il Mago Herrera (Wizard).
Rincian waktu Herrera dan tempat lahir terselubung dalam misteri - diterima bahwa ia dilahirkan di sebuah pulau di suatu tempat di Rio de la Plata, di perbatasan Argentina dan Uruguay. Ketidakpastian tetap sekitar tanggal lahirnya, namun. Tidak hanya itu disarankan bahwa ayah Herrera sengaja memasukkan dokumen kelahiran yang salah, tapi kemudian istrinya juga mengklaim dirinya berubah Herrera jelas tahun kelahirannya 1910-1916. Anak dari orang tua Spanyol, keluarganya pindah ke Maroko ketika ia berusia empat dan ia menjadi warga negara Prancis
Seperti Mourinho, Herrera tidak mencapai sukses sebagai pemain. Seorang bek profesional, dia berbalik keluar untuk berbagai klub Prancis selama tahun 1930 dan 1940-an, terutama dengan Stade Francais, tapi piala berhasil menghindarinya. Setelah pensiun pada tahun 1945, Herrera segera memulai karir pelatih di Prancis, mengambil alih dan Stade Francais Puteaux. Pada tahun 1960, Herrera telah membangun reputasi luar biasa dengan karyanya di enam klub di Spanyol. Il Mago telah mantra di Real Valladolid, Malaga, Deportivo La Coruña dan Sevilla, tetapi berada di Atletico Madrid dan kemudian Barcelona di mana nya gaya manajemen lincah berbuah terbaiknya.
Herrera membawa Atleti untuk back-to-back kejuaraan Spanyol pada awal tahun 1950-an sebelum mengulangi feat hampir satu dekade kemudian di Catalonia. Barcelona juga memenangkan Piala Spanyol dan Inter-Cities Fairs Cup (pendahulu Piala UEFA) di bawah kepemimpinannya. Herrera meninggalkan Camp Nou setelah terus meludah dengan pemain bintang tim Laszlo Kubala, sebuah peristiwa yang meramalkan perawatan dari pemain tertentu di Inter, tapi kesan abadi telah ditinggalkan baik di Spanyol dan seluruh Eropa.
Sebuah disiplin dengan ide-ide trailblazing diet, motivasi dan taktik, Herrera benar-benar dari waktu ke depan. Dia benar-benar dikelola apa yang pemainnya makan dan merupakan salah satu pelatih pertama untuk mengambil skuadnya jauh sebelum pertandingan, membatasi kontak dengan keluarga dan teman-teman selama membangun-up. Seorang Buddhis yang mulai setiap hari dengan sesi yoga, Herrera diharapkan komitmen yang sama dari pemain di semua aspek persiapan. Sebagai alat motivasi, ia akan menanamkan mantra ke dalam jiwa tim dan menulis slogan-slogan di dinding ruang ganti.
Fans juga memainkan peran penting dalam keberhasilan Inter di bawah Herrera, seorang manajer yang dengan cepat menyadari pentingnya kerumunan. Klub didanai bepergian kelompok penggemar untuk memastikan dukungan gencar di laga tandang di Italia dan Eropa, sementara Herrera membantu untuk menciptakan asosiasi di seluruh negeri. Dalam banyak hal, dukungan Inter waktu bisa digambarkan sebagai ultras pertama. Pendekatan teliti dan ide-ide visioner, dikombinasikan dengan tim dari individu-individu berbakat, tak lama datang bersama-sama untuk menghasilkan periode terbaik dalam sejarah kesuksesan Inter.
Dalam dua musim pertamanya bertugas, Inter bermain gaya sepakbola luas dan gagal untuk memenangkan Scudetto. Dengan 1962-1963, Herrera telah mengadopsi formasi lebih defensif, mengasah 5-3-2 sebagai Inter memenangkan kejuaraan. Meskipun Herrera mengklaim telah menemukan catenaccio, timnya tidak bermain versi ultra-defensif ideologi. Itu tidak menghentikan dia, lagi bergema Mourinho, bermain dengan citra dalam upaya pragmatis untuk membelokkan tekanan dari timnya. Perilaku sinis mereka dan tekad belaka untuk menang mungkin telah dilengkapi template taktik catenaccio, tetapi mereka telah kehalusan lebih. Taca la bal - serangan bola - adalah moto dan gaya Herrera timnya sering bisa mendahului Total Football Belanda, yang akan dimuliakan satu dekade kemudian di Piala Dunia 1974.
Berdasarkan rock-solid kembali lima - biasanya Armando Picchi, Tarcisio Burgnich, Aristide Guarneri, Giacinto Facchetti dan Gianfranco Bedin - Grande Inter pakaian kontra-menyerang hipnotis. Facchetti, khususnya, menyediakan lebar reguler dari full-back, sementara Jair dan Sandro Mazzola adalah pemain bakat ini yang bisa memberikan gol. Picchi, juga, merasa nyaman membawa bola dari belakang meskipun penyapu ditunjuk. Herrera bahkan menemukan ruang di sisi tubuhnya, meskipun terkenal atas perintah dari Moratti, untuk pemain mewah - Mario Corso. Pemain sayap dibuat lebih dari 400 penampilan bagi Inter tapi akhirnya menjadi terkenal karena dirasakan kurangnya upaya
Memenangkan gelar pada 1963 berarti kualifikasi Piala Eropa Inter musim berikutnya, yang masih dalam masa pertumbuhan relatif, tetapi memiliki reputasi yang berkembang setelah eksploitasi awal Real Madrid dan Benfica. Rival sekotanya AC Milan telah memenangkan kompetisi tahun sebelumnya dan sesuai diikuti Inter pada upaya pertama. Inter hanya kebobolan dua gol dalam enam pertandingan pembukaan mereka, merobohkan Everton, Monaco dan Partizan, untuk mendirikan semi-final dengan Borussia Dortmund. Hasil imbang 2-2 leg pertama di Jerman memberi Italia keunggulan, dan kemenangan telah selesai dengan kemenangan 2-0 kembali di Milan. Sekitar 30.000 Interisti perjalanan ke Wina untuk, sisi akhir Herrera mengalahkan lima kali juara Madrid, yang timnya adalah penuaan dengan 1964, 3-1 untuk mengangkat trofi.
Musim berikutnya, 1964/65, sangat banyak Inter dan puncaknya Herrera. Inter memenangkan kedua Seri A dan Piala Eropa untuk kedua kalinya di bawah Argentina, mencapai ganda yang luar biasa. Inter lagi menunjukkan nilai mereka di Eropa, menolak Dinamo Bucharest, Rangers dan - kontroversial - Liverpool untuk mencapai final kedua berturut-turut. Dua kali juara Benfica, yang dipimpin oleh Eusebio angkuh, para penentang mereka dan tujuan Jair soliter terbukti cukup untuk memenangkan piala didambakan untuk musim kedua berjalan. Scudetto lain diikuti pada tahun 1966 sebelum penampilan ketiga Piala Eropa akhir tahun kemudian. Meskipun mengambil memimpin dini melalui Mazzola, Inter dipukuli oleh 'Singa Lisbon Celtic di salah satu final paling terkenal dalam sejarah turnamen itu.
Inter tidak akan pernah mencapai ketinggian yang di bawah Herrera lagi, dan memang di bawah setiap manajer untuk waktu yang lama. Dia meninggalkan klub pada 1968 dan meskipun dia kembali untuk kampanye lain di pertengahan 1970-an, dominasi dari Grande Inter berakhir. Tuduhan akan muncul ke permukaan di tahun kemudian berkaitan dengan doping dan suap di klub, tetapi mereka tidak banyak untuk menodai besarnya semata prestasi Herrera. Yang pertama dari manajer modern jenis, ia merevolusi klub dan dampaknya, begitu banyak yang dapat dilihat pada Mourinho, masih terasa hari ini.
by Chris Shaw
Kamis, 27 Oktober 2011
CORO CURVA NORD
Jumat, 21 Oktober 2011
ARTI SEBUH LOGO INTER
Jangan pernah sekali pun menganggap remeh sebuah logo. Meski kebanyakan hanya berupa gambar dan tulisan, didalamnya terkandung sejuta makna. Logo boleh jadi merupakan maksud dan tujuan klub, yang direfleksikanke dalam gambar atau tulisan. Setiap bentuk atau corak yang tertata disana, pasti ada artinya.
Terkadang, logo sebuah klub mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, juga perjalanan klub tersebut. Ini juga berlaku terhadap logo Inter Milan. Saat pertama kali berdiri, tifografi IMFC (Internazionale Milan Football Club) melekat di logo klub yang berwarna emas. Selanjutnya, perkembangan logo Inter hampir tak pernah dipisahkan dari lambang ular-simbol kekuatan kota Milano dan tifografi IMFC.Berikut adalah Logo-logo Inter Milan dari berdiri hingga sekarang serta penjelasannya.
Adalah Giorgio Muggiani disainer lokal perancang kostum inter milan yang diberi kepercayaan untuk mendisain logo generasi pertama. Bentuknya berupa lingkaran dengan warna emas, sesuai kostum Inter di awal berdirinya. Tifografi IMFC diletakkan didalam lingkaran.Warna hitam biru juga disertakan.
Logo ini dipakai pada masa Inter dipaksa memakai nama Ambrosiana Inter. Gambar Ular "simbol kota milan" diikutkan dalam upaya pencitraan klub dalam bentuk logo ini. Bentuk logo semula lingkaran berubah menjadi perisai. Tanda bahwa Itali saat itu terlibat Perang Dunia I. Tifografi IMFC tetap terasa, namun didisain lebih kecil dan ditempatkan diatas perisai.Perubahan lain, warna emas tak lagi mendominasi.
Pada era 1978-80 pada era Presiden Fraizzoli, logo dengan gambar ular diperkenalkan lagi.Tempatnya di tengah logo yang berbentuk perisai. Hanya,kali ini tifografi IMFC dihilangkan. Warna yang dominan adalah hitam biru. Sementara itu, tanda bintang ditempatkan ditengah perisai. Persis di depan kepala ular. Saat Inter merebut Scudetto di tahun 1988-89, logo ini masih dipakai. Baru di ganti memasukki musim 1991-92.
Ini logo yang dipakai inter saat tahun 2000-an. Logo Inter terdahulu, lingkaran berwarna dasar emas, digunakan sampai musim 1998-99.Setelah itu tak dipakai lagi, sebagai gantinya logo generasi pertama tersebut direnovasi oleh disainer bernama Nico Collona.
Bentuk tak berubah, tetap lingkaran.Tifografi IMFC pun tetap ada. Perubahan yang paling drastis adalah soal warna.Logo yang semula berwarna emas diganti dengan warna dominan hitam biru.Selain itu,tanda bintang yang semula diluar lingkaran, ditempatkan di dalam lingkaran tepat di depan tifografi.Tambahan lain,tulisan inter ditempatkan di bagian atas.Sementara, tahun berdirinya 1908, diletakkan di bawah.
Tahun 1960-an,atas usulan Presiden Angelo Moratti, tanda bintang dengan warna dasar emas diletakkan diatas logo Inter generasi pertama.Sang presiden ingin mengenang sekaligus menunjukkan bahwa Inter mampu meraih scudetto.Maklum, dalam khasanah sepak bola italia, lambang bintang identik dengan 10 scudetto.Perstasi besar sebuah klub yang harus ditonjolkan kepada publik, dan di pakai juga hingga sekarang.Bentuk logo utama sama sekali tidak mengalami perubahan.Tifografi IMFC tetap mendapat tempat
Terkadang, logo sebuah klub mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, juga perjalanan klub tersebut. Ini juga berlaku terhadap logo Inter Milan. Saat pertama kali berdiri, tifografi IMFC (Internazionale Milan Football Club) melekat di logo klub yang berwarna emas. Selanjutnya, perkembangan logo Inter hampir tak pernah dipisahkan dari lambang ular-simbol kekuatan kota Milano dan tifografi IMFC.Berikut adalah Logo-logo Inter Milan dari berdiri hingga sekarang serta penjelasannya.
Adalah Giorgio Muggiani disainer lokal perancang kostum inter milan yang diberi kepercayaan untuk mendisain logo generasi pertama. Bentuknya berupa lingkaran dengan warna emas, sesuai kostum Inter di awal berdirinya. Tifografi IMFC diletakkan didalam lingkaran.Warna hitam biru juga disertakan.
Logo ini dipakai pada masa Inter dipaksa memakai nama Ambrosiana Inter. Gambar Ular "simbol kota milan" diikutkan dalam upaya pencitraan klub dalam bentuk logo ini. Bentuk logo semula lingkaran berubah menjadi perisai. Tanda bahwa Itali saat itu terlibat Perang Dunia I. Tifografi IMFC tetap terasa, namun didisain lebih kecil dan ditempatkan diatas perisai.Perubahan lain, warna emas tak lagi mendominasi.
Pada era 1978-80 pada era Presiden Fraizzoli, logo dengan gambar ular diperkenalkan lagi.Tempatnya di tengah logo yang berbentuk perisai. Hanya,kali ini tifografi IMFC dihilangkan. Warna yang dominan adalah hitam biru. Sementara itu, tanda bintang ditempatkan ditengah perisai. Persis di depan kepala ular. Saat Inter merebut Scudetto di tahun 1988-89, logo ini masih dipakai. Baru di ganti memasukki musim 1991-92.
Ini logo yang dipakai inter saat tahun 2000-an. Logo Inter terdahulu, lingkaran berwarna dasar emas, digunakan sampai musim 1998-99.Setelah itu tak dipakai lagi, sebagai gantinya logo generasi pertama tersebut direnovasi oleh disainer bernama Nico Collona.
Bentuk tak berubah, tetap lingkaran.Tifografi IMFC pun tetap ada. Perubahan yang paling drastis adalah soal warna.Logo yang semula berwarna emas diganti dengan warna dominan hitam biru.Selain itu,tanda bintang yang semula diluar lingkaran, ditempatkan di dalam lingkaran tepat di depan tifografi.Tambahan lain,tulisan inter ditempatkan di bagian atas.Sementara, tahun berdirinya 1908, diletakkan di bawah.
Tahun 1960-an,atas usulan Presiden Angelo Moratti, tanda bintang dengan warna dasar emas diletakkan diatas logo Inter generasi pertama.Sang presiden ingin mengenang sekaligus menunjukkan bahwa Inter mampu meraih scudetto.Maklum, dalam khasanah sepak bola italia, lambang bintang identik dengan 10 scudetto.Perstasi besar sebuah klub yang harus ditonjolkan kepada publik, dan di pakai juga hingga sekarang.Bentuk logo utama sama sekali tidak mengalami perubahan.Tifografi IMFC tetap mendapat tempat
Langganan:
Postingan (Atom)















